| Red-Joss.com | Salah satu kejadian paling membekas dalam Pekan Suci adalah perlakuan ‘keji’ Imam Agung terhadap Yesus (Yoh 18: 23). Jika dituliskan secara sederhana, akan berbunyi sebagai berikut:
Lalu Yesus menjawabnya, “Kalau saya mengatakan sesuatu yang melanggar peraturan, seharusnya tunjukkan dulu… kesalahan saya, sebelum engkau menampar saya. Tapi, kalau perkataan saya yang tadi benar, seharusnya engkau tidak boleh menampar saya!”
Tamparan itu diterima Yesus. Dia dianggap tak selayaknya berbicara seperti itu terhadap seorang Imam Besar. Orang yang berkedudukan tinggi. Yang bersentuhan dengan kuasa ilahi yang ada di bumi. Terutama dalam berbagai peran kultus Yahudi di Bait Allah Yerusalem. Tapi kisah tamparan itu direaksi dengan satu pertanyaan kecil, singkat, dan terukur, “Mengapa engkau menampar Aku?” Tamparan itu justru menjadi satu kekuatan dahsyat bagi Yesus untuk bersuara.
Tamparan tidak layak dan sama sekali tak boleh diberi kepada siapa pun yang tak bersalah!
Patutkah kisah kasih, perbuatan karitatif, sekian banyak lakon yang mengusung martabat kemanusiaan itu harus dibayar dengan harga sebaliknya? Yakni, bahwa kekerasanlah yang harus diterima? Yesus menanti sebuah jawaban!
“Kalau Aku salah, katalanlah. Kalau tidak, … mengapa kau menampar Aku?” Yesus menggugat dari penguasa, sanggup memberikan tanggapan yang jujur?
Tamparan itu (bentuknya macam-macam) adalah bentuk ‘membungkam’ kebenaran rakyat biasa, rakyat yang tak punya otoritas jabatan, demi langgengnya kekuasaan. Berhasillah? Tidak!
Siapa pun kita, Yesus dengan tamparan itu ingin berpesan, “Buruk muka… janganlah cermin dibelah!” Drama ini sedang ramai di KPU dan MK. Drama membelah cermin.
Bagaimana lingkungan kita? Keluarga, kantor, wilayah, gereja, …?
Salam sehat dan waras.
…
Jlitheng

