| Red-Joss.com | Bukankah anak-anak rohani Bunda selalu menyapa setiap hari?
Terus terang, jika Bunda Maria menangis, kami pun sedih dan hati ini menjadi nelangsa.
Bunda menangis, apa karena sikap kami, anak-anak rohanimu yang nakal dan membuat Bunda kecewa. Bunda bersedih hati, karena kami sering mengadu dan berkeluh kesah. Atau mungkin Bunda hendak menyampaikan sesuatu, tapi Bunda tidak sampai hati.
Menangis itu biasa, apalagi di saat berdoa. Kita mengadu pada Bunda itu bukan karena ‘ciwek’ (mudah menangis), melainkan dengan menangis itu, ada sentuhan hati yang mendalam. Kita bisa merasakan kehadiran Bunda dan kita percaya, bahwa Bunda mendengarkan doa kita.
Ada kisah mengesankan hari ini Bunda. Saat aku duduk di Taman di Tsing Yi. Kulihat seorang Bapak Tua berjalan lambat dengan tongkatnya. Tiba-tiba, barang yang dibawanya terjatuh. Spontan aku mengambilkan barangnya. Saat diterima barangnya itu, dia mengatakan “Terima kasih.” Kulihat dengan cepat wajahnya, tampak ada perpaduan antara bahagia dan menangis. Tapi saya hanya menebak. Yang jelas, saya senang diberi kesempatan berbuat baik, dari sekian banyak orang yang berjalan bersama.
Itu pula yang kulihat pada wajahmu, Bunda, ada perpaduan antara bahagia dan menangis. Bahagia, karena anak-anak rohanimu menyapamu setiap hari. Menangis, karena ada yang tidak melakukannya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

