| Red-Joss.com | Mungkinkah kita dapat mengampuni dengan Segenap Hati?
Pernahkah Anda menerima tuduhan bertubi-tubi dari orang lain? Atau menerima perlakuan yang sungguh tidak adil dari orang yang hanya berdasar katanya?Saya pernah!
Ketika itu, walau hati ini mendidih dan ingin berteriak mengatakan: “tidaaaaakkk,” akan tetapi mulut ini seperti terkunci dan tiada daya untuk membukanya. Ada godaan untuk mengutuk dan membalasnya.
Ketika dikemudian hari, saya mendengar khabar, bahwa orang yang bertindak tidak adil itu sakit, ada rasa senang dan keinginan untuk mengatakan: “Syukur, biar tahu rasa. Itu balasannya.”
Tetapi, haruskah saya membalasnya? Membalas untuk apa dan apa yang saya dapat? Apakah biar dia tahu rasa?
Jika demikian, sudah pasti saya tidak menjadi lebih baik karenanya, malah tambah dosa. Saya kehilangan kesempatan menerima rahmat: kesanggupan untuk mengampuni.
Dalam buku ‘Come Be My Light’, Mother Teresa mengatakan: “Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain (karena profesi atau panggilan), justru tetap berada dalam kegelapan.”
Ah, jangan-jangan saya ini salah satunya…?
Saya jadi teringat ‘parikan’ seperti ‘seloka’ atau ‘pantun’ dalam Bahasa Jawa yang berisi sebuah pesan atau sindiran halus. Contohnya: ‘gajah diblangkoni pinter kotbah, ora pinter nglakoni’.
Betapa banyak orang yang pinter sekali (khotbah) atau ngomong, tetapi miskin tindakan nyatanya.
Mungkin sosok seperti orang Farisi dan ahli Taurat dalam Alkitab itu dapat digolongkan ke dalam tipe ‘gajah diblangkoni’, karena mereka mempunyai masker dan topeng yang sudah melekat dengan wajah mereka. Kemunafikan itu menjadi penghalang bagi mereka untuk bertobat. Alih-alih bertobat, kemunafikannya justru menjadi-jadi. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang lain, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Menurut hemat saya, sosok pribadi yang seperti mereka itu cocok dengan parikan: ‘gajah diblangkoni, pinter khotbah ra pinter nglakoni’.
Hanya ‘parikan’ saja, sebagai pelepas lelah.
Salam sehat. Jangan lupa bahagia.
…
Jlitheng

