“Memberi maaf dan mengampuni sesama, tapi tidak bisa melupakan sakit hati itu konyol.” – Mas Redjo
Memberi maaf dan mengampuni sesama yang bersalah, jika sekadar di mulut itu tiada guna dan sia-sia. Kita tidak bisa melepas kenangan pahit itu. Sebaliknya hati ini makin tersiksa dan terbebani.
Hal konyol lain yang dilakukan pula, jika kita lalu menghindari, menjaga jarak dengan orang itu, atau ke luar dari komunitas! Itu sifat pengecut!
Menghindari dan menjauhi orang itu tidak menyelesaikan masalah. Tapi mendekati dan menuntaskannya itu
berjiwa besar.
Prioritas yang utama dan pertama itu berdamai dengan diri sendiri, karena tidak ada seorang pun yang luput dari kesalahan. Bisa jadi pula, orang itu khilaf.
Coba ubah kebencian itu dengan kasih, sebagaimana Tuhan Yesus mengajarkan pada kita agar kita saling mengampuni dan mengasihi.
Jika ternyata sulit melupakan sakit hati, coba dibawa ke dalam doa. Mohon berkat-Nya. Sirami kotoran yang melekat di hati itu dengan kerahiman Ilahi hingga bersih.
Jangan bertanya berapa lama kita mendoakan orang yang menyakiti itu. Tapi seberapa cepat kita sadar diri dan ikhlas untuk melepas rasa sakit itu dengan mengasihinya.
Sesungguhnya, dengan mengasihi dan mendoakan orang lain atau seteru, kita melepas energi negatif dan menggantinya dengan energi kasih-Nya.
Dengan mengasihi sesama, kita bahagia!
…
Mas Redjo

