“Berani merendahkan diri serendah-rendahnya, hingga orang lain tidak bisa merendahkan kita lagi.” – Mas Redjo
…
Terekam jelas dalam ingatan saya, ketika teman mengomentari dan mengolok-olok sifat diam mengalah saya pada orang lain itu dianggap sebagai penakut dan pengecut. Padahal ia tahu, saya seorang pesilat. Tapi saya tidak menggubris, membalas candaannya itu, kecuali tersenyum, lalu ngeloyor pergi.
“Kamu marah, ya…?” katanya tergagap sambil mengejar saya.
“Kena deh! Ini yang namanya jurus ‘menang tanpa ngasorake’,” gantian saya mencandainya sambil tertawa lepas.
“Menang tanpa ngasorake,” itu tidak berarti peroleh kemenangan tanpa mempermalukan. Melainkan mengalah, karena memaafkan, mengasihi, dan mendoakan agar orang itu sadar diri.
Sejatinya mengalah pada orang lain, karena saya sedang belajar untuk mengendalikan diri. Saya terinspirasi dan termotivasi dengan teladan Tuhan Yesus. Mengampuni, mengasihi, dan mendoakan yang orang yang bersalah. Karena mereka tidak tahu yang diperbuatnya!
Saya belajar bela diri itu tidak sekadar untuk jaga diri dan tubuh jadi sehat. Tujuan saya yang utama adalah untuk mengendalikan diri agar saya tidak mudah terpancing emosi dan sakit hati. Meski dihina, dilecehkan, bahkan sekalipun dikhianati oleh teman. Tapi agar saya jadi sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan merendahkan serendah-serendahnya agar orang lain tidak bisa merendahkan saya lagi.
Dengan mengalah untuk selalu mengalah itu agar saya tidak egois, tapi belajar untuk memahami, menghargai, dan menghormati orang lain.
Sejatinya, dengan memahami dan mengasihi orang lain, kita makin mengenal jati diri sendiri.
“Jika ingin diperlakukan baik orang lain, hendaknya kita perlakukan baik pada orang itu lebih dulu!”
…
Mas Redjo

