“Ngalah, ngalih, ngamuk.” -Keutamaan Jawa
Kadang orang mengira, mengalah itu tanda kita lemah. Padahal justru di situlah letak kekuatan sejati. Mengalah bukan berarti kalah, tapi memilih berdamai daripada emosi dan ego.
Ada tiga keutamaan orang Jawa yang pantas kita renungkan.
- Pertama: Ngalah – mengalah. Orang Jawa di seluruh penjuru Indonesia biasanya cenderung bersikap mengalah. Bukan tidak berani, tapi lebih memilih jalan damai. Itulah mengapa orang Jawa bisa berbaur dengan suku apa saja di Indonesia.
- Kedua: Ngalih – pergi. Biasanya sikap ini diambil, bila sudah mengalah, masih saja dipancing atau diprovokasi. Biasanya orang Jawa memilih ngalih atau pergi. Bukan tidak berani, tapi tujuannya satu supaya tidak terjadi pertikaian, pertengkaran dan pertumpahan darah.
- Ketiga: Ngamuk – marah. Pada tingkat ini kesabaran sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Pada titik ini orang Jawa biasanya jadi beringas dan tidak takut mati. Titik ini biasanya jarang terjadi.
Paus Leo 14 pada pembukaan tahun yubelium Fransiskan bulan ini, membuat tanda sederhana tapi nyata: memindahkan jenazah St. Fransiskus Asisi dari ruang bawah tanah ke Altar Gereja di Asisi sebagai simbol perdamaian. Salah satu jalan untuk damai adalah mengalah.
Keutamaan ini tidak lagi butuh pembuktian siapa yang paling benar, karena orang yang benar-benar bijak tahu, bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan dengan amarah. Ada kalanya diam dan mundur satu langkah jadi cara terbaik untuk seribu langkah lebih jauh. Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Mengalah bukan berarti takut, tapi sudah cukup dewasa untuk memahami, bahwa kedamaian jauh lebih berharga daripada pembenaran.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

