“Menabung uang di bank itu biasa. Jadi luar biasa itu menabung untuk membayar cicilan barang produktif.” -Mas Redjo
Cara kreatif untuk mengajar anak berhemat dan menguntungkan itu diterapkan Pak Besan pada anak-anaknya. Alasannya, mengajari anak hidup hemat dan menabung secara produktif itu demi masa depan yang cerah.
Bagaimana tidak. Uang tabungan dari sebagian gaji bulanan anak itu digunakan membayar DP barang-barang produktif untuk disewakan pada kenalan yang membutuhkan pekerjaan. Sedang uang hasil sewa barang itu untuk membayar cicilan bulanan.
Alasan utama Pak Besan adalah, selain memberdayakan sesama, juga mengasah jiwa anak dalam berbisnis agar kelak mereka makin jeli berbisnis, teruji, dan mandiri. Tujuannya agar anak-anak pandai mengelola uangnya. Prinsipnya,
“Tidak selamanya kita bekerja, tapi jadi pengusaha di kemudian hari.”
Ternyata, menabung yang produktif itu diterapkan sejak kecil pada keluarga Pak Besan. Menabung barang-barang sederhana itu untuk dikreditkan pada warga lingkungan yang membutuhkan dan bunganya ringan agar tidak memberatkan pelanggan.
“Untuk membentuk karakter anak itu caranya dengan mendisiplinkan kebiasaan baik. Tujuannya agar anak itu komitmen, konsisten, dan berkesinambungan,” jelas Pak Besan. Prinsip tegasnya, bangun tidur agar anak beberes kamar sendiri; tidak boleh bermain, jika belum menyelesaikan tugas dari sekolah; dan seterusnya.
Uraian Pak Besan mengenai anak-anaknya yang disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri itu terlihat jelas dari sikap hidup keseharian keluarga besarnya.
Saya sungguh tidak menyangka, jika menantu saya itu mempunyai beberapa angkot, bahkan sejak sebelum menikah. Ketika pandemi covid dan penumpang mulai sepi, angkot itu lalu dijual untuk ditukar mobil dan direntalkan.
“Cepat dan mudah beradaptasi dengan tuntutan zaman” adalah filosofi Pak Besan yang saya cermati pada pribadinya yang bersahaja dan rendah hati itu.
Pak Besan yang mempunyai usaha penggilingan padi itu tidak mau alih profesi ke bidang yang bergengsi demi sekadar menangguk rezeki, alasannya sederhana, karena pekerjaan itu sudah ditekuni secara turun temurun.
“Beras itu kebutuhan pokok. Yang berubah itu hanya mesinnya agak dimodernin. Saya selalu bersyukur, karena kebutuhan kami dicukupi Gusti,” kata Pak Besan merendah. Senyum tulusnya mengembang membuat wajahnya makin sumringah.
Hati saya jadi nyes, karena terharu dengan kerendahan hatinya itu!
Mas Redjo

