“Hidup ini kesempatan agar tidak kita sia-siakan. Hidup bermakna, bahkan hingga tarikan nafas yang terakhir.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketika hendak merantau ke Ibukota, Mbah Putri memberi nasihat yang membuat saya selalu semangat dalam menapaki hidup ini.
“Le, hidup ini tidak untuk mencari pengakuan, tapi pemaknaan diri. Urip kuwi urup. Hidup ini harus berdampak positif bagi lingkungan sekitar.”
Saya bersyukur, karena nasihat Mbah Putri itu mengajari saya agar hidup ini bercahaya, dimaknai sejak dini, bahkan meskipun cahaya itu makin redup.
Ya, seredup keadaan saya saat ini, karena pensiunan dan manula. Tapi hal itu tidak membuat saya pesimis dan malas-malasan, apalagi jadi nglokro.
Sekali lagi saya bersyukur dan beruntung, karena sejak remaja saya aktif dalam organisasi sosial Kerawan; Kerasulan Awan. Ketika pensiun, aktivitas tidak berkurang, tapi saya alihkan untuk banyak bersosialisasi dengan warga lingkungan.
Saya prihatin, karena banyak lansia setelah pensiun terkena ‘power syndrome’ dan jadi nglongkro. Mereka tidak menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapi purna bakti. Mereka jadi kaget, dan tidak tahu yang harus diperbuat.
Bersama teman, saya mengundang Guru senam sehat seminggu 2 kali, di lapangan komplek. Bersama istri, kami mengajari warga membuat eco enzym dengan memanfaatkan
sampah rumah tangga. Jalan-jalan pagi dilanjut ngopi di gazebo sambil merancang untuk mengisi hari-hari agar manfaat.
Bersama warga, saya mewujudkan program positif seperti membuat kue, kerajinan kain perca, mengolah bank sampah, dan sebagainya. Tujuannya adalah membangun ekonomi warga yang sehat dan kuat.
Tidak hanya itu, bersama warga pula, saya membangun semangat peduli kasih dan perhatian dengan mendampingi warga yang sakit dan mengalami kesulitan ekonomi agar mereka sabar dan tabah dalam menapaki jalan hidupnya.
Dari nasihat Mbah Putri, saya belajar memaknai dan mengambil hikmahnya, bahwa hidup bermakna itu tidak harus melakukan hal-hal besar dan hebat. Tapi dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam keluarga sendiri. Dengan memberi teladan beretika, tertib, atau tata krama, dan tidak mengenal istilah pensiun.
Membangun keteladanan, karena peduli dan saling mengasihi. Hidup bermakna hingga tetes akhir.
…
Mas Redjo

