“Orang sombong mengandalkan kemampuan sendiri. Orang rendah hati melihat hikmat dari saran dan nasihat orang lain.” -Mas Redjo
…
Tidak malu belajar dan menimba pengalaman dari para senior itu yang utama dan pertama saya lakukan, ketika saya memutuskan berhenti kerja untuk wirausaha, dan mandiri.
Dengan banyak belajar, saya ibarat katak ke luar dari dalam tempurung untuk melihat dunia yang luas dan masa depan nan cerah.
“Sukses sejati itu tidak untuk diri sendiri, tapi guna disinergikan dan berbagi pada sesama agar pintu rezeki makin terbuka lebar,” nasihat bijak EK, mentor saya, sekaligus senior saya di Gereja.
Selalu berusaha menginspirasi dan memotivasi orang lain itu yang saya lakukan pada umkm pelanggan. Saya tidak pelit untuk berbagi ilmu dan trik bisnis tanpa takut, jika kelak mereka jadi pesaing saya. Karena kualitas mutu layanan dan barang itu yang bakal menentukan sukses usaha. Selain, tentu saja semua itu atas seizin Tuhan.
Misalnya, ketika terjadi lonjakan kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok. Sedang daya beli masyarakat makin lesu. Harga produk yang dijual itu mengikuti kenaikkan, produk dikecilkan, atau dikurangi bumbunya?
Dengan santai, tapi optimis, saya menjawab: lebih baik mengurangi margin keuntungan, tapi kualitas produk terjaga. Karena ada harga ada kualitas. Kepercayaan pelanggan itu harus dijaga dan dipertahankan.
Begitu pula, ketika produksi usaha kurang laku di pasaran. Saya usul agar umkm rajin berinovasi dan berkreasi untuk menciptakan varian produk dan rasa baru agar pasaran tidak jenuh dengan produk yang sama, sekaligus untuk menarik minat pembeli.
Dalam pengembangkan usaha, produsen juga tidak harus pamali untuk pinjam modal ke bank, asal berhitungnya cermat, jelas, dan akurat agar tidak terjerat hutang. Catatan: tidak salah penggunaan uang itu untuk membeli gengsi dan barang konsumtif.
Produsen itu harus piawai dalam mengantisipasi persaingan pasar.
Juga harus mempunyai visi misi brilian untuk meraih sukses di masa depan.
Kita tidak harus malu dan gengsi untuk ‘nyantrik’, belajar dari orang atau negara lain untuk alih teknologi.
Pertanyaannya, apakah kita juga siap sedia untuk mengantisipasi persaingan usaha yang makin kompetitif, jika Thailand membuka “Terusan Kra” yang sepanjang 120 km dan lebar 500 meter itu?
Apa pun tantangan dunia usaha itu harus jadi peluang dan kesempatan terbaik kita untuk merebut sukses!
…
Mas Redjo

