| Red-Joss.com | Ketika pasangan itu (yang tidak lagi muda) kembali bergolak, ibarat perahu yang sedang tertiup kencang oleh angin panas, yang membuat udara bersama berubah gerah, …
Yang terpikir dibenak ini untuk saya katakan adalah: masalahnya yang banyak terjadi di antara kita. Suami isteri adalah keinginan untuk mengubah pasangan dan tidak menerima adanya lebih dulu.
Berhentilah mencoba mengubahnya, terima dia, cintai dia, belalah dia dan sabar padanya; itulah inti pasangan. Dalam istilah Jawa artinya ‘GARWO’ (siGARaning nyoWO)
Sabar itu adalah sebuah proses menerima pasangan itu apa adanya. Sampai kapan? (seumur hidup). Hanya ibarat: mungkin saja pasangan anda itu penyu dan anda elang. Dia tentu tidak bisa terbang jadi sabarlah padanya.
Saya yakin, jika sabar maka perkawinan Anda kembali subur, dan… please… izinkan Tuhan membantu Anda, sebab tidak bisa sendiri.
Itulah hidup berkeluarga, di saat kita merasa ‘perasaan istimewa’ berangsur-angsur menjadi biasa dan mungkin memudar dari perasaan kita, karena merasa dia tidak dapat memberikan ‘sesuatu’ dalam wujud yang kita inginkan, maka sesungguhnya ‘perasaan’ itu sedang hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
(Inilah jawabanku berdasar puluhan tahun perjalananku bersama dia yang kucinta).
Salam sehat dan bahagia.
…
Jlitheng

