| Red-Joss.com | Berpuasa itu tidak paksaan. Berpuasa adalah pilihan bebas. Dengan berpuasa kita sengaja menepi. Dengan rela kita menarik diri, mengambil jarak dari kendali tubuh jasmani, mengambil jarak dari rasa haus dan lapar. Mengambil jarak dari tarik menarik dari rangsangan tubuh kita. Mengambil jarak dari pikiran kita.
Dengan berpuasa kita menepi, untuk menemukan keheningan dan lebih memperhatikan apa saja yang hadir dalam pikiran kita.
Dengan berpuasa kita menepi, untuk menyelam lebih dalam, ‘duc in altum’, agar dapat melihat lebih jelas apa yang berseliweran dalam pikiran dan hati kita: ide, bayangan, perasaan, dan sebagainya. Apakah semua yang hadir itu telah tunduk pada titah Ilahi. Atau masih liar, usil, tak terkendali, bahkan mengendalikan kita?
Dengan berpuasa akan lahir keheningan. Dalam keheningan akan lahir kejernihan. Pada saat itulah, kita menatap diri sendiri dengan jernih, dan sekaligus menyadari secara penuh siapakah aku ini yang sebenarnya.
Menyadari diri, merupakan titik penentu perjalanan hidup kita. Kesadaran diri akan membimbing pikiran, hati, dan jiwa menemukan jalan yang benar menuju hidup yang sejati, yakni Guru Kebenaran kita, yang berkata: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.”
Puasa kita memang keren. Berpuasa dalam aksi. Kita menepi bukan bersembunyi. Sambil menata diri kita menanti dan mengajak para sahabat untuk berjalan bersama di jalan-Nya. Bersediakah Anda?
Salam sehat dan tak penat berbagi cahaya.
…
Jlitheng

