“Yesus, Tuhan atas Sabat, adalah istirahat sejati kita. Percayalah pada-Nya, dan biarkan kerahiman-Nya memperbarui hidup kita.”
Yesus mengingatkan kami, bahwa Dialah Tuhan atas hari Sabat. Ketika ada kebutuhan manusia, belas kasih selalu didahulukan. Seperti Daud dan para pengikutnya yang makan roti persembahan. Yesus menunjukkan, bahwa kasih itu lebih besar daripada aturan, dan kerahiman lebih utama daripada kekakuan hukum.
Tuhan, sering kali kami seperti orang Farisi; cepat menghakimi, tapi lambat mengasihi, lebih terikat pada penampilan luar daripada pada belas kasih. Namun sabda-Mu dalam surat Kolose menegaskan: meskipun dulu kami jauh dari-Mu, kini kami didamaikan dalam Kristus, dikuduskan dan dijadikan tidak bercela asalkan kami tetap teguh dalam iman. Sungguh mengagumkan rahmat ini: Allah yang bisa menghukum kami, tapi justru memilih mengampuni dan memulihkan kami.
Seperti Pemazmur, kami berseru: “Sungguh, Allah adalah penolongku; Tuhan penopang hidupku.” Bapa, biarlah kebenaran ini meneguhkan hati kami. Semoga kepercayaan kepada Yesus membebaskan kami dari ketakutan, menyembuhkan luka-luka kami, dan mendorong kami untuk bertindak penuh belas kasih serta murah hati. Bukan berpegang pada kesombongan atau aturan belaka, melainkan berpegang erat pada Kristus—damai sejahtera kami, perhentian kami, Penebus kami.
Ajarlah kami, ya Tuhan, menemukan Sabat sejati bukan dalam kemalasan, melainkan dalam kehadiran Putra-Mu: tempat beban ditanggalkan, kasih diperbarui, dan hidup meluap dalam pelayanan kepada sesama. Sebab Yesus Kristus, Putra-Mu, hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, kini dan sepanjang masa. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

