Kisah dua tokoh pada hari ini, Maria yang dikandung tanpa noda dan Yohanes Pembaptis memiliki motto berbeda, tapi kandungan isinya sama: “Aku hamba Tuhan, terjadilah sesuai kehendak-Mu” dan “Aku bukan Mesias. Dia yang harus jadi besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3: 30).
Keduanya sudah saya pilih jadi motto hidup sejak muda, tapi terbalut-balut oleh banyak hambatan pribadi, sehingga saya merasa belum mampu menjalaninya. Susah!
Lewat ucapan itu, baik Maria maupun Yohanes menunjukkan rahasia yang terpenting dalam pelayanan, yakni patokan yang harusnya jadi indikator pelayanan setiap anak Tuhan:”Fiat mihi secundum Verbum Tuum” dan “Dia harus makin besar dan aku makin kecil.”
Saya melihat kalimat ini sebagai suara dari Surga, bukan kalimat dari dunia. Khususnya, di zaman ini yang sangat narsis; kenarsisan ditemukan di dunia dan di Gereja. Semua orang mempromosi diri dan juga membesarkan ego masing-masing. Iklim dunia sekarang mendorong tiap orang untuk semakin besar ego masing-masing. Tetapi, Maria dan Santo Yohanes memberikan pada kita suara dari Surga. “Fiat Mihi secundum Verbum Tuum” dan “Dia harus makin besar, dan aku makin kecil.”
Suara yang kedengaran aneh, tapi sesungguhnya adalah suara dari Surga. Indikator kesalehan rohani kita diukur dari situ. Entah sebagai Imam, Prodiakon, Pamong Sabda atau Kaling.
Setiap pelayanan harus dibangun di atas dasar ini. Pertumbuhan rohani setiap orang, ditentukan oleh hal ini.
“Apakah kita yang makin besar atau Yesus yang makin besar di dalam hidup kita?”
Ucapan itu mengandung makna, bahwa setiap orang harus lebih mencintai Tuhan daripada pelayanannya.
Ketika dalam pelayanan nampak ada tanda-tanda itu, ingat Maria dan Yohanes Pembaptis.
Salam sehat.
…
Jlitheng

