Teguran yang tidak didengarkan dan tidak dipedulikan itu berakibat tidak baik untuk diri sendiri.
“Friends, how did you get in without the wedding clothes? But the man remained silent.”
Ketika ditegur itu kita diam, marah, atau berpikir…?
Coba dicermati, ketika ditegur oleh siapa pun itu tujuannya adalah agar kita mawas diri.
Kita berdiam diri itu, karena sedang berpikir untuk berubah, sebab teguran yang diberikan sangat baik.
Atau kita mendiamkan dan bersikap tidak peduli, karena kita merasa tersinggung dan dipermalukan.
Juga harus dicek pribadi yang menegur itu. Dia menegur, karena tidak suka? Ini tidak baik.
Dia menegur, karena iri hati? Ini juga tidak baik.
Dia menegur, karena mau mempermalukan? Ini sikap yang sangat tidak terpuji.
Yang menegur itu juga harus bisa menunjukkan kesalahan kita, dan tidak asal menegur.
Yang menegur itu harus berani berhadapan muka, tidak menegur dengan sembunyi-sembunyi lewat orang lain.
Yang menegur itu juga harus didasari dengan kasih, sebab yang mau disampaikan adalah hal yang baik dan benar.
Coba dibayangkan. Ketika ditegur, kita tidak tahu sedang ditegur, karena yang menegur itu tidak pernah berbicara langsung dengan kita. Yang dilakukannya sekadar ‘ngrasani.’ Seolah-olah benar, tapi ini adalah sikap yang tidak terpuji, bahkan menjijikkan.
Para sahabat, jadilah orang yang berani untuk mengatakan hal yang baik dan benar. Jika memang di sekitar kita itu ada yang berbuat salah dan perlu diingatkan. Tapi hindari menegur orang lain, karena motivasinya itu tidak suka, iri hati, benci, atau karena tidak ada kasih sama sekali. Maaf, itu namanya menghakimi, menuduh, atau memfitnah.
Jika hal itu terjadi, yang ditegur itu bisa terdiam. Diam, karena marah atau berpikir? Belum bisa diketahui dengan pasti, sebelum dia berbicara sendiri.
Tegurlah dengan bijak, dan menggunakan hati!
Rm. Petrus Santoso SCJ

