Oleh: Peter Suriadi
Tanggal 6 Januari 2026, adalah Hari Raya Penampakan Tuhan. Dalam hitungan jam, Tahun Yubileum Biasa 2025 akan ditutup Paus Leo XIV. Penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus Vatikan jadi tanda penutupan Tahun Yubileum tersebut.
Sehubungan Tahun Yubileum, ada hal menarik yang mulai dipertanyakan umat Katolik. Kapan Tahun Yubileum berikutnya diadakan dan apa alasannya?
Paus Leo XIV mengincar tahun 2033, dan ini yang paling mungkin. Selama perjalanan apostolik pertamanya, ke Turki, yang berfokus pada persatuan umat Kristiani, beliau menyarankan, bahwa Yubileum 2033 dapat jadi waktu untuk acara Ekumenis besar berikutnya. Seribu tujuh ratus tahun Konsili Ekumenis pertama yang menyatukan para pemimpin Kristiani di Nicea telah diperingati dalam Yubileum 2025. Dalam Yubileum 2033 dua ribu tahun tahun kebangkitan Kristus yang menyatukan para pemimpin di Yerusalem dapat diperingati.
Kemungkinan lain untuk Yubileum berikutnya itu bisa jadi tahun 2031. Alasannya, Paus yang berkebangsaan Amerika-Peru ini ingin memperingati 500 tahun penampakan Maria di Meksiko, pada tahun 1531. Bunda Maria dari Guadalupe adalah permaisuri Amerika, baik Utara maupun Selatan, dan tahun suci yang didedikasikan untuknya tentu akan jadi cara baginya untuk menyatukan kedua tanah airnya. Jika ternyata tidak jadi tahun Yubileum, tahun 2031 bisa dicanangkan sebagai Tahun Maria sebagai persiapan yang sangat baik untuk Yubileum 2033.
Meskipun kecil kemungkinannya, ada yang menduga tahun 2030 sebagai Tahun Yubileum berikutnya. Alasannya, Paus Leo XIV bukan hanya seorang Paus yang berasal dari Ordo Santo Agustinus (OSA), tapi juga seorang putra spiritual Santo Agustinus yang sangat taat. Ia mengutip Bapa spiritualnya di hampir setiap pidatonya. Santo Agustinus meninggal pada tahun 430, artinya tahun 2030 adalah peringatan yang tepat untuk Tahun Yubileum!
Jika bukan di tahun 2030, 2031 atau 2033, Tahun Yubileum berikutnya pasti di tahun 2050 sesuai tradisi yang berlaku saat ini, yaitu setiap 25 tahun sekali.
Hanya Allah yang tahu pasti tahun Yubileum berikutnya. Tapi terlepas dari itu, kita terus melanjutkan kehidupan sebagai Peziarah Pengharapan!
(Bapak Peter Suriadi)

