Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Proses Pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat”
(Didaktika Hidup)
…
| Red-Joss.com | Tulisan kecil ini, saya “persembahkan kepada para orangtua serta Lembaga Pendidikan Katolik” (LPK) di Indonesia.
“Bagaimana mungkin, ketika siswa kita sudah berada di bangku SMA, tetapi para guru kita masih terus sibuk untuk mengatur kerapian berpakaian para siswa?” Demikian sebuah pertanyaan retoris dari Pastor Drs. Drost, SJ dalam bukunya yang berjudul, Sekolah Mendidik atau Mengajar.
Beliau berpendapat, bahwa sejatinya, kita telah gagal dalam proses โmendidik anak-anakโ kita. Hal ini dapat dibuktikan, sekalipun sudah di bangku SMA, namun anak-anak kita belum mampu untuk bersikap mandiri.
Bagi beliau, โporsi aspek pendidikanโ, seharusnya sudah mulai dikurangi, saat anak sudah berada di bangku SMA. Di tingkat SMA, sudah lebih difokuskan pada aspek pengajaran.
Karena sejatinya, proses mendidik, justru sudah bermula dari lingkungan keluarga, lewat peran utama orangtua sebagai pendidik utama dan pertama. Kemudian dilanjutkan lagi di sekolah, oleh para guru sejak anak berada di taman kanak-kanak dan perlahan akan berakhir di bangku SMP.
Selanjutnya, justru porsi aspek pengajaran yang harus lebih ditingkatkan, dengan catatan, bahwa porsi aspek pendidikan sudah ditanamkan sejak dini dari dalam keluarga. Idealnya, bahwa karakter dasar sang anak pun telah dibentuk di sana.
Namun, kendala yang kita hadapi, justru betapa tumpang tindihnya keberlangsungan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah kita. Bahkan, ketika anak-anak kita sudah berstatus mahasiswa pun tingkah laku mereka belum mencerminkan hasil ideal dari proses pendidikan dasar.
Yang terjadi di lapangan, ternyata betapa sulitnya mahasiswa kita untuk dapat bersikap dan bertindak disiplin serta mandiri. Mereka justru masih bersikap kekanak-kanakan di bangku kuliah. Tugas-tugas kuliah banyak yang terbengkalai, karena mereka menunda mengerjakannya.
Fakta-fakta ini pun dapat membuktikan, bahwa sejatinya, mereka belum mampu bersikap dewasa dan mandiri.
Alangkah baiknya, jika lembaga pendidikan dan para orangtua kita untuk bersikap konsisten dalam melaksanakan peran penting sesuai amanat dari tri pusat pendidikan.
Keseimbangan di dalam proses pembentukan jati diri anak lewat porsi mendidik dan mengajar agar perlu ditanamkan serta dijalankan secara konsisten pula.
Sehingga akhirnya, lembaga pendidikan kita pun akan mampu menghasilkan โout putโ yang matang serta seimbang antara tangan, kepala, dan hati.”
Inilah misi besar umat Katolik di tanah air kita.
…
Kediri,ย 17ย Oktoberย 2023

