“Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5: 8).
Saat mengalami banyak pembentukan, tempaan, dan ujian, jika kita merespon dengan benar maka karakter mulia yang ada dalam diri kita makin terbentuk. Kita tidak perlu menjalani kehidupan ini dengan tergesa-gesa, tapi ikuti prosesnya, berikan respon dengan benar dalam ketaatan, ketulusan, dan ucapan syukur. Supaya ketekunan itu memperoleh buah yang matang. Sehingga tanpa disadari, kemuliaan Tuhan sungguh membahagiakan kita semua.
Bayangkan, jika Tuhan memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa permohonan atau tidak pernah mengizinkan penderitaan dan masalah hidup, tentu ini akan membuat kita jadi orang yang cengeng. Akibatnya, akar iman kita tidak kuat. Ketika masalah terjadi kehidupan kita tumbang dengan mudahnya. Tuhan sangat mengasihi kita. Itu sebabnya Dia selalu mendewasakan dan melatih iman kita.
Tuhan mengizinkan penderitaan, masalah, sakit-penyakit, tekanan hidup atau keadaan yang tidak menyenangkan dengan harapan, bahwa iman kita terus mencari sumber yang sejati dan bertumbuh (bdk. Yak 2: 22).
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memilih jadi orang yang manja, dengan iman yang rapuh? Atau, jadi orang yang didewasakan oleh Tuhan?
…
Sr. M. Stefani P. Karm
Senin, 20 Januari 2025
Ibr 5: 1-10 Mzm 110: 1-4 Mrk 2: 18-22
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

