| Red-Joss.com | Pengalaman demi pengalaman datang silih-berganti dan berubah dengan amat cepat. Setiap momen terlintas cepat. Kadang kita hendak menikmatinya sedikit agak lama, tapi kita tidak punya kuasa untuk menahannya.
Waktu telah mengatur dengan putarannya yang sudah pasti, 24 jam sehari. Tentunya kita harus ikut bergerak-berjalan-melewatinya dengan kesadaran otomatis atau dengan kesadaran yang penuh.
Setiap pengalaman itu meninggalkan arti dan makna tersendiri bagi kita. Yang dibutuhkan dari kita adalah mensyukurinya. Jika tidak, justru akan meninggalkan banyak penyesalan dan membuat beban hidup kita makin menumpuk: wajah menjadi muram dan tak bersemangat. Selain itu setiap pengalaman tidak bisa diulang lagi, tapi yang bisa kita lakukan adalah menyusukurinya untuk menerima dan menjalani waktu selanjutnya dengan belajar dari pengalaman. Karena pengalaman adalah guru yang baik untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik pula.
Tuhan hadir sebagai gembala yang menuntun, mengarahkan, dan menunjukkan jalan yang menuju kepada kehidupan kekal. Peran Tuhan yang lain sebagai gembala adalah menjaga dan memastikan, bahwa masing-masing domba-Nya tidak ada yang hilang (dan dibiarkan tersesat). Pada akhirnya, Tuhan sebagai gembala menunjukkan tanggung-jawab-Nya agar kita tetap menjadi milik Bapa. Sebab, Sang Gembala dan Bapa adalah satu. Kita juga disatukan dalam kehidupan-Nya. Kita bisa mencapai itu, jika kita sebagai domba, benar-benar mendengarkan suara-Nya.
Jangan menjadi domba yang dungu, bandel, dan mau enaknya sendiri. Bersikap cuek, tidak peduli, dan hidup asal-asalan. Jangan pula menjadi domba yang sombong, angkuh, keras kepala, malas, dan tidak disiplin hidupnya. Karena domba-domba seperti itu sulit untuk mendengarkan suara-Nya. Sehingga bisa dipastikan, bahwa jalan dari domba-domba itu tidak lurus dan tidak mencapai kepada tujuan yang dimaksudkan.
Itulah sebabnya kita menjadi domba yang mendengarkan suara-Nya supaya diluruskan jalan kita. Bagaimana caranya? Pastikan kedua telinga kita adalah telinga seorang murid (domba) yang jernih untuk mendengarkan suara-Nya. Misalnya, kita tidak sibuk sendiri ketika Dia bersabda (konkritnya: ketika Kitab Suci dibacakan saat perayaan di Gereja atau pada kesempatan acara rohani lain). Contoh lain, kita tidak jatuh tertidur saat Kitab Suci dibacakan. Tapi yang perlu diubah adalah kebiasaan buruk kita, yaitu kita tidak ngobrol dengan teman di sebelah atau bermain gadget saat Kitab Suci dibacakan. Juga banyak kebiasaan buruk lain yang harus ditinggalkan sekarang juga.
Sesungguhnya, kita hendak membangun keluarga yang taat untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Jangan membiarkan keluarga kita ‘berziarah’ tanpa pernah mendengarkan Sabda-Nya. Bagaimana keluarga kita dikenal oleh Tuhan, jika keluarga kita tidak pernah mendengarkan Sabda-Nya?
Tuhan bersabda, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Aku memberi hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh 10: 27-28).
Jangan menjauhkan keluarga kita dari Sabda-Nya, tapi dekatkan keluarga kita untuk tekun mendengarkan Sabda-Nya. Karena dengan mendengarkan suara-Nya akan diluruskan jalan kita sebagai domba-domba yang masih berziarah di dunia ini. Semua itu membuat kita tidak hanya mensyukuri hidup, tapi kita akan dibuat menjadi kagum dengan penyertaannya yang berkelimpahan. Pastinya, keluarga kita akan diperbaharui menjadi lebih baik lagi.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

