Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Audiamus Invincem cum Corde”
“Mari Kita Mendengarkan Satu sama lain dengan Hati”
(Adagium Latin)
Manusia itu Sulit untuk Mendengarkan
Sudah jadi sebuah keluhan umum, bahwa betapa sulitnya seorang manusia mau mendengarkan tuturan sesamanya. Kita sudah sama-sama sadari, bahwa memang demikian adanya. Inilah sebuah fakta hidup yang sering dikeluhkan, ketika seseorang merasa dirinya tidak dihargai, karena orang tidak mau mendengarkan dia.
Antara Dua Sahabat
Suatu hari seorang kepala suku Indian di Amerika mengunjungi sahabatnya di kota. Saat keduanya sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba si Indian berkata, “Aku mendengar suara jangkrik. Di sudut ruangan ini pasti ada jangkrik.”
Tapi sahabatnya malah tertawa dan berkata, “Mana ada jangkrik di tempat ini. Hai teman, semua jangkrik dan serangga sudah dibasmi di kota ini.”
“Aku tidak membual aku sungguh mendengar suaranya dengan jelas. Di tempatku aku sudah terbiasa mendengar suara kicauan burung, katak, jangkrik, dan desis ular, karena itu telingaku jadi sangat peka.”
“Baiklah kita buktikan saja,” kata sahabatnya itu.
Indian itu bangkit dari duduknya, berjalan mengendap-endap mencari ke arah suara jangkrik itu. Ia menempelkan telinganya ke lantai, berusaha mendengarkan lebih teliti. Kemudian sampailah ia di dekat sebuah lemari dan memasukkan tangannya ke bawah lemari tersebut. Hap. . .! Seekor jangkrik sudah berada di genggamannya. “Lihat ini! Aku tidak bohongkan,” kata Indian itu.
“Wow, kau memang hebat! Pendengaranmu tajam sekali!”
Sepuluh menit berselang, anak pemilik rumah pulang dari sekolah. Saat ia hendak naik ke lantai dua, uang koin jatuh dari saku celananya.
“Aku mendengar ada koin yang jatuh,” kata Ayah anak itu.
“Aku tidak mendengar suara apa-apa. Mungkin kau hanya mengada-ada. Kau pasti ingin meniruku ya, supaya dibilang mempunyai pendengaran yang sangat peka,” kata si Indian.
“Aku tidak mengada-ada. Tadi aku mendengar dengan jelas, kalau ada koin jatuh dari anak tangga,” katanya.
“Baiklah kalau begitu, kita cari saja. Aku ingin lihat apakah kau benar-benar memiliki pendengaran yang peka juga.”
Serentak keduanya bangkit dan berjalan mendekati anak tangga. Benar saja, belum ada lima menit, si pemilik rumah itu sudah menemukan sebuah koin di anak tangga bagian bawah. “Lihat, aku menemukannya! Aku tidak mengada-ada, kan?” Si Indian hanya tertawa.
(Inspirasi Lima Menit)
Mendengarkan itu adalah sebuah Seni Hidup
Makna filosofisnya, bahwa mendengarkan adalah upaya untuk memahami, menerima, dan menghargai perspektif orang lain tanpa harus setuju atau tidak setuju.
Bukankah lewat ‘seni mendengarkan’, maka kita dibantu untuk memahami lebih dalam tentang orang lain, diri sendiri, dan dunia sekitar kita, bukan?
Suasana Alam dan Orientasi Hidup sanggup Menajamkan Kepekaan Nurani Kita
Dalam konteks ini, mari kita sudi belajar dari kepekaan nurani si Indian yang sudah sangat akrab dan terbiasa hidup di tengah kesunyian alam. Sehingga baginya, semua bunyi yang sekecil apa pun akan mampu didengarnya. Gendang telinganya sudah akrab dan terbiasa dengan suara alam nan sunyi. Sehingga bunyi-bunyian alam mudah ditangkap oleh daun telinganya.
Sebaliknya si pemilik rumah akan lebih peka pada bunyi dentingan koin, karena bukankah seluruh orientasi hidupnya lebih akrab dan terarah dengan uang?
Manusia Suka Mendengarkan Hal-hal Penting saja
Sungguh daun telinga dan nurani kita lebih suka mendengar sesuatu yang dianggap penting saja. Inilah sebuah bahaya besar dalam kehidupan yang kini kita alami. Kita akan tutup telinga dan bersikap acuh tak acuh terhadap sesuatu yang kita anggap tidak penting, bukan?
Refleksi
- Sejujurnya, lewat roh dari tulisan ini, kita diajak untuk membuka diri dan nurani kita agar terus mau belajar untuk rela mendengarkan. Termasuk di dalamnya, kerelaan untuk mendengarkan suara kaum terpinggirkan.
- Bukankah biasanya kita hanya mau mendengarkan suara orang-orang penting saja? Sedangkan tuturan saudara, sahabat, dan kaum bawah sering kita abaikan?
“Bukan dengan bicara, tetapi lewat mendengarkan kita bisa banyak belajar.”
(Larry King)
Kediri, 15 Februari 2026

