Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mari setia mendengar riuh nyaringnya dendang suara-suara kehidupan.”
(Amanat Seruan Suara Kehidupan)
Mendengar Suara Apa Saja
Dalam hidup ini, kita tidak luput dari mendengar suara-suara ‘kebisingan dunia’. Kita mendengar, menyimak, dan bahkan kita turut memikirkan tentang aneka permasalahan yang sempat ditangkap lewat indra pendengaran kita.
Ya, itulah sebuah dinamika hal indahnya hidup ini, juga lewat aksi mendengar tentang aneka warta dalam seni kehidupan ini. Karena bukankah hidup itu bermakna, bahwa Anda, mau atau tidak mau, tapi Anda pun harus mendengar? Itulah bagian yang tak terpisahkan dari seni kehidupan ini.
Fungsi Alat Indra
‘Mata’ agar kita dapat melihat tentang apa saja, ‘telinga’ agar kita dapat mendengar bunyi apa saja, dan juga ‘hidung’ agar kita sanggup membaui (bau pun aroma) apa saja. Bukankah para cerdik pandai berpesan, agar hendaklah kita peduli kepada realitas seluruh hidup ini, antara lain dengan memanfaatkan alat-alat indra?
Riilnya, antara indra untuk melihat, membaui, dan mendengar itu ternyata ‘sama cepatnya’. Jadi, sungguh, betapa tajamnya fungsi dari indra-indra itu. Asalkan Anda tidak menutupi indra: mata, telinga, dan hidung Anda.
Mendengarkan Suara Kebaikan dan Kebenaran
ataukah Suara Kepalsuan dan Kejahatan?
Manusia, adalah makhluk yang memiliki suara hati. Bahwa kita, mau atau tidak mau itu akan mendengar suara hati sendiri. Apa kata suara hati kepada kita? Di setiap saat dan dalam kondisi apa saja, suara hati itu akan membisikkan resah dan rindunya kepada kita, dan itu spesial hanya buat Anda seorang.
Apakah itu nyaringnya suara Iblis yang merayu dan mendayu-dayu atau lirihnya suara sunyi Malaikat? Karena hanya Anda sendiri yang dapat menentukan dan memastikannya. Biasanya, seorang itu akan sangat mudah terjebak, manakah suara kebaikan dan manakah suara kejahatan?
Antara Suara Rayuan Iblis dan Suara Sayup Malaikat
Tidak jarang pula, dentangan suara yang paling lantang dan merdu mendayu-dayu penuh godaan nan manis itu biasanya suara Iblis. Sebaliknya, jika bunyi suara itu terdengar sayup dan menantang, itulah suara Malaikat.
Tentu, semuanya itu sangat bergantung dari sikap batin Anda sendiri. Karena Anda penentunya dan bukan orang lain. Suara yang berupa godaan, biasanya justru datang seketika dan tak disangka-sangka. Bukankah suara Iblis itu akan terdengar sangat merdu, manis, dan menggoda?
Ujian atas Kualitas Iman
Dalam kondisi inilah kualitas kesejatian hidup Anda diuji dan dites. Apakah Anda akan bertahan atau justru sangat mudah termakan suara godaan nan merdu mesra itu? Kualitas dan isi iman Anda sendiri yang menentukannya. Bahwa siapakah Anda itu sejatinya? Apakah mental Anda itu sekokoh batu padas ataukah justru hanya serapuh kerupuk udang?
Menurut pepatah petitih bangsa kita, bahwa, ‘sering kali rumput tetangga itu justru dipandang lebih hijau daripada rumput di taman kita sendiri’. Bukankah godaan itu biasanya justru sifat dan tabiatnya sangat licik serta menantang?
Refleksi
Hendaklah kita sudi mendengarkan suara-suara kehidupan ini, lewat suara hati nan tulus dan mata iman sejati!
Kediri, 24 September 2025

