| Red-Joss.com | Setiap kali memasuki bulan Desember, dan mendekati Natal, hati saya kian risau. Serasa ada yang menggedor dada ini hingga menyesak, sakit, dan menorehkan luka.
“Layak dan pantaskah saya untuk menyambut kedatangan bayi Yesus nan Kudus…?”
Pertanyaan itu selalu mengusik hati ini. Biasanya, jika mendekati Natal, anak-anak dengan gesit menghias pohon cemara di pojok ruang tamu, memutar lagu Natal, atau bertukar kado.
Natal kali ini serasa lain, dan saya tidak melakukan hal itu. Hiasan kandang tempat lahir Yesus dan pohon Natal itu bagai seremonial, tapi minus makna. Hati ini serasa kering kerontang.
Saya ingin melakukan hal lain. Saya sungguh ingin menyiapkan dan menata hati ini. Mendekorasinya dengan pernak pernik Natal. Saya lalu teringat nasihat bijak, “Hidup tanpa refleksi itu tak layak dijalani.”
Saya ingin membuat palungan tempat Yesus dilahirkan dengan menggunakan gazebo di halaman rumah dengan nuansa sederhana tapi sarat makna. Menyiapkan hati dengan laku prinatin, berbuat baik dan amal kasih, serta menerima sakramen tobat!
Prioritas utama dan pertama saya adalah dengan mendidik mulut, mata, jemari, dan pikiran ini agar hati tidak terkontaminasi racun medsos. Apalagi di tahun politik yang sarat hoaks, hujatan, fitnah, dan hal-hal negatif lain seperti seksarang ini.
Dengan laku prihatin saya mendidik hati agar antara pikiran, kata, dan perbuatan itu selaras dan seirama. Hidup berkenan bagi Allah.
Di gazebo itu saya ingin membuat kandang hewan dari barang bekas yang didaur ulang. Kandang dibuat dari bubur kertas semen dan koran yang dicampur kanji lalu dicat warna warni, sehingga tampak alami.
Saya ingin merayakan Natal kali ini bersama anak-anak di lingkungan sekitar.
Ya, kita harus berani meninggalkan kebiasaan manusia lama untuk menjadi manusia baru dalam menyambut bayi Yesus nan Kudus.
Pikiran anak-anak yang polos dan tulus yang harus kita miliki untuk merayakan Natal yang indah.
Immanuel!
..
Mas Redjo

