| Red-Joss.com | Melihat sampah yang menggunung, berair, berbau busuk, dan sumber penyakit itu membuat siapa pun jadi jijik, mual, bahkan rasanya ingin muntah.
Begitu pula dengan sampah yang ada di bak sampah rumah kita atau perumahan, jika jarang diangkut oleh petugasnya.
Kita menjadi gemas dan jengkel, meski disiplin membayar iuran, tapi sampah tidak diangkut juga.
Ketimbang emosi dan nyesek di hati, karena komplain kurang ditanggapi. Lebih bijak kita mengalah untuk memilih dan memilah sampah rumah tangga sendiri. Karena kita peduli!
Ya, semangat kepedulian itu harus dimulai dari keluarga sendiri! Tujuan utamanya adalah mengurangi sampah rumah tangga agar kita membeli kebutuhan keluarga secukupnya. Kita tidak memenuhi kulkas dengan makan-makanan dan sayuran yang sering kali kita lupa. Sehingga mubazir dan tiada guna.
Selain itu, ketimbang menyimpan makanan atau sayuran di kulkas, alangkah bijak, jika makanan atau sayuran itu diberikan pada mereka yang kurang beruntung.
Dengan membeli makanan dan sayuran secukupnya, kita tidak boros lagi. Kita dapat menabung atau berbagi pada sesama, dan bahagia.
Dengan memilih dan memilah sampah rumah tangga, kita juga memudahkan pemulung untuk mengambil sampah yang bernilai ekonomis untuk didaur ulang, Sampah di bak itu juga tidak diorek-orek dan berantakan.
Sama halnya dengan sampah di pikiran dan hati sendiri yang telah sekian tahun menumpuk. Apakah kita tidak peduli, jijik, dan mencium aroma yang tak sedap itu?
Jika sampah rumah tangga itu dapat didaur ulang untuk mencari nilai keekonomiannya, begitu pula dengan sampah pikiran dan hati ini.
Tidak ada kata terlambat. Saatnya kita memilih dan memilah agar pikiran dan hati ini tidak makin kotor, sumpek, dan jadi sumber penyakit.
Caranya adalah racun yang telah menaun mengendap di pikiran dan hati itu harus segera dibuang. Kita harus berani berdamai dengan diri sendiri untuk meminta dan memberi maaf pada orang lain.
Dengan memfilter hal-hal baik dan positif yang kita terima, baik lewat medsos atau dari orang lain untuk diteruskan dan dibagikan. Jika hal yang negatif, buruk, dan tidak layak dibaca itu untuk segera dibuang agar tidak mencemari pikiran dan hati ini. Intinya, kita diajak bersikap bijak untuk menyikapi.
Tiada hari untuk selalu perbarui diri dan berbuat baik agar racun yang mengendap di pikiran dan hati ini disembuhkan dan dimurnikan.
Hidup sehat lahir batin itu hebat!
…
Mas Redjo

