“Fakta membuktikan: Banyak orang lebih jijik melihat sampah yang berbelatung dan berbau, ketimbang sampah di hati sendiri.” -Mas Redjo
Padahal, jika jeli dan kreatif, kita dapat mendaur ulang sampah itu. Dengan memilih dan memilah, lalu menyulapnya jadi barang yang berguna serta mempunyai nilai keekonomian tinggi. Bahkan dari sampah itu pula kita bisa mencium aroma wangi uang.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau atau tidak untuk memulai dan mencoba hal-hal baru?
Kunci suksesnya, kita dituntut untuk inovatif dan berkreasi tanpa henti
Jujur, semula saya ini pedagang plastik eceran. Dari pergaulan dengan para senior itu saya belajar banyak seluk beluk perplastikan, termasuk limbah plastik untuk didaur ulang yang prospeknya menjanjikan. Saya lalu mencari limbah plastik dari pengepul hingga ke pabrik untuk dijual kembali.
Dari limbah plastik, saya lalu belajar mengelola limbah rumah tangga, khususnya sisa sayuran dan buah-buahan untuk dibuat eco enzyme yang multi manfaat.
Bagaimana dengan limbah sampah di hati? Kita tidak merasa jijik, karena tidak melihat dan mencium aroma busuk, bahkan banyak di antara kita yang merasa sok suci. Meskipun kita terbiasa berpikir, berucap, dan berperilaku buruk. Bahkan intoleransi, koruptif, serta berbuat jahat pada sesama.
Jika kita tidak merasa jijik dengan limbah sampah di hati, apakah hidup kita merasa nyaman, tiada terbebani, damai, dan bahagia?
Coba berefleksi, sebelum menyesal belakangan. Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah dan jadi baik. Kita mendaur ulang limbah sampah di hati dengan berbuat hal-hal baik dan positif itu kepada sesama agar hidup kita berhikmat.
Rasakan, resapi, dan bandingkan. Antara memperoleh untung dari berbisnis dengan berbagi ikhlas hati pada sesama. Amati wajah cerah nan sumringah mereka yang dibantu itu.
Dengan hidup baru, kita menikmati
karunia kasih Tuhan. Bahkan beban yang menghimpit jiwa kita serasa diringankan, jadi nyaman dan lega.
Kita mendaur ulang barang bekas itu mempunyai nilai keekonomian tinggi. Sedang mendaur ulang sampah di hati itu anugerah Tuhan. Kita dipulung-Nya, karena hidup kita bermakna bagai permata.
Bersoraklah, hai jiwa, karena Tuhan penyelamat kita. Alleluya!
Mas Redjo

