“Karena daging itu lemah, si Jahat gencar menggoda untuk menguasainya.” -Mas Redjo
Tidak harus malu. Tapi kita belajar hidup jujur pada diri sendiri, dan khususnya pada pasangan.
“Pernahkah, setelah menikah kita tertarik atau jatuh cinta pada orang lain?”
Tidak harus diingkari dan ditutupi, tapi diwaspadai serta berhati-hati agar kita tidak jatuh dalam godaan dan dikuasai si Jahat.
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tapi daging lemah” (Mat 26: 41).
Kita diminta berjaga-jaga dan berdoa, karena si Jahat itu pandai merayu, berkamuflase, dan jeli membaca kelengahan kita.
Ketika berkonflik dengan pasangan, si Jahat memperlihatkan pada kita kekurangan maupun keburukkan pasangan untuk diungkit-ungkit atau disodori alternatif lain sebagai penggantinya agar kita selingkuh.
Si Jahat tidak ingin kita berdamai untuk saling memaafkan dan mengasihi. Tapi agar kita saling membenci, mendendam, renggang, dan menjauh dari pasangan, hingga akhirnya bercerai.
Prinsipnya untuk mewaspadai jerat si Jahat agar kita teguh dalam iman adalah dengan berdoa, supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan.
Dengan iman yang kokoh sekokoh karang Petrus. Kita telah dipilih dan diutus-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira lewat jalan kasih; rela berkorban dan ikhlas hati.
Ketika di dalam keluarga itu terjadi kesalahpahaman dan perselisihan, kita diminta mengedepankan jalan kasih seperti yang diteladankan Yesus. Jalan kerendahan hati untuk mengalah dan mengasihi pasangan demi keutuhan rumah tangga.
Juga kita hendaknya ingat nasihat bijak Paus Fransiskus, bahwa belas kasih adalah kunci keberhasilan pernikahan. Dengan pengampunan, kita berdamai dengan diri sendiri dan mengasihi pasangan untuk tetap bersama, baik dalam untung dan malang maupun suka duka.
“Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19: 6).
Saling mengasihi dan setia adalah fondasi keluarga bahagia.
Mas Redjo

