Dalam ajaran Guru Sejati, hati ini adalah mata air. Jika sumbernya keruh atau bocor, karena luka, dendam, atau kepahitan yang belum selesai, maka perbuatan baik di luar (puasa dan derma) kehilangan kuasanya untuk memberi ketenangan sejati.
Itu terjadi kebocoran spiritual dalam berpuasa: istilahnya merembes ke luar sangat terang untuk menggambarkan, bagaimana seseorang bisa sangat religius, namun tetap merasa hampa dan mudah marah, karena energinya habis terbuang untuk konflik batin yang belum didamaikan.
Terkadang kita terlalu sibuk mengisi ember dengan berbagai amal dan ritual, sampai lupa memeriksa, apakah ada rembes di dasarnya. Menambal kebocoran spiritual itu melalui kedamaian dengan diri sendiri yang adalah kunci agar ketenangan itu benar-benar menetap, bukan sekadar mampir.
Penitensi, ampunan, dan maaf itu tepat dilakukan.
Berkah Dalem.
Jlitheng

