Oleh : Fr. M. Christoforus, BHK
“Luka batin, apa obatnya? “
(anonim)
| Red-Joss .com| Kita tentu ingat atau paham akan teori “Fenomena gunung es.” Dalam pergaulan kita sering terjebak dengan sikap teman yang sepintas tampak dan terkesan baik atau pun memuakkan hati. Atau juga, kita dikejutkan oleh keberingasan seorang yang selama ini terkesan sangat santun dan adem. Ya, semua itu dapat terjadi di dalam hidup kita.
Fenomena gunung es, bermakna, bahwa sejatinya, yang sungguh kita tahu dan kenal dari sikap serta tabiat seorang itu hanya 10% yang mencuat ke permukaan. Sedangkan yang 90%, justru terbenam di dasar hati.
Di dalam hidup ini, tidak jarang terjadi percekcokan antara seorang dengan yang lain. Ada percekcokan yang segera dapat diselesaikan dengan berdamai. Namun, ada juga percekcokan yang justru berlarut dan bahkan berakhir permusuhan. Itulah, realitas hidup sang anak manusia, sang rasional itu.
Kita pun tidak jarang terjebak di dalam suatu proses perdamaian semu itu. Semua persoalan dianggap selesai dan tuntas secara lahir batin. Tapi, sebetulnya hanya suatu perdamaian kamuflase. Mengapa?
Penyelesaian secara tuntas sebuah masalah, seharusnya hingga ke radiksnya. Mencabut akarnya dan tidak sekadar memangkas cabangnya.
Ibarat orang mencabut rumput, jika yang dicabut hanya batangnya, sedangkan akar-akarnya masih kokoh menancap di tanah. Maka sepekan kemudian, rumput itu akan kembali bertumbuh.
Sangat sering yang kita lakukan, ialah sekadar “melupakan masalah, tapi tidak mencabut akar-akarnya.” Eksesnya, sesaat kelak, sang gunung berapi itu akan segera erupsi. Dengan ganas ia akan memuntahkan unek-unek serta api kemarahannya.
Begitulah tabiat serta perangai asli sang anak manusia yang sangat sulit ditebak.
Luka-luka batin itu, ibarat bisul yang membengkak. Terasa panas, serta tampak memerah. Setiap saat, ia siap memuntahkan cairan amisnya.
Kediri, 14 Juli 2023

