“Tunjukkanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya, Tuhan, dan ajarlah aku menapaki kebenaran-Mu.”
Dalam Injil, kami melihat Yesus dipertanyakan oleh mereka yang takut kehilangan kuasa. Setelah Ia menyucikan Bait Allah, para Imam kepala dan tua-tua itu bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Yang mereka cari bukanlah kebenaran, melainkan kekuasaan.
Yesus menanggapi mereka dengan sebuah pertanyaan, bukan untuk berdebat, melainkan untuk menyingkapkan isi hati. Mereka menolak mengakui, bahwa baptisan Yohanes berasal dari Surga, karena pengakuan itu menuntut keberanian untuk ke luar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang. Dengan memilih diam yang tidak jujur, mereka tetap terbelenggu oleh ketakutan dan kepentingan diri.
Melalui nubuat Bileam, kami mendengar harapan yang terbit di tengah malam: “Bintang terbit dari Yakub.” Dari kejauhan Allah telah mewartakan, bahwa terang akan menembus kegelapan. Terang itu adalah Yesus yang kuasa-Nya tidak berasal dari pengakuan manusia, melainkan dari Allah. Injil memakai kata ‘exousia’ kuasa yang mengalir dari hakikat keberadaan. Yesus bersabda dan ciptaan taat. Sabda-Nya bukan sekadar mengajar, melainkan mengubah. Ia memerintah, dan orang mati bangkit. Ia berbicara, dan kekacauan jadi tenang. Ia memberkati roti, dan roti itu jadi Tubuh-Nya sendiri. Kuasa-Nya adalah kasih yang bekerja nyata.
Pemazmur mengajar kami untuk berdoa: “Tunjukkanlah jalan-Mu dan ajarlah aku.” Tragisnya para pemimpin agama waktu itu bukanlah karena kesetiaan mereka pada hukum, melainkan karena hati mereka tidak dipenuhi kasih. Mereka hafal aturan, tapi tidak mengenali suara-Nya. Mereka menjaga tradisi, namun Kehadiran Sang Hidup yang berdiri di hadapan mereka itu terlewatkan.
Allah mengundang kami menapaki jalan yang lain, jalan kerendahan hati. Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menindas atau menghakimi, tapi untuk membebaskan kami dari dosa, menyembuhkan yang terluka, dan menuntun kami kembali kepada-Nya. Semakin kami menyerahkan diri pada kuasa-Nya, kian hidup kami dipenuhi terang.
Ya, Allah, kami menyerahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan Yesus: relasi kami, keluarga, pekerjaan dan keuangan kami, bahkan ketakutan dan keinginan yang tersembunyi. Seperti Pemazmur, kami mohon: tuntunlah langkah kami di jalan-Mu, sebab Engkau penuh belas kasih dan setia.
Di masa Adven ini, tolonglah kami memilih terang dan bukan kegelapan, kebenaran dan bukan ketakutan, penyerahan diri dan bukan keinginan menguasai dan mengendalikan. Semoga Bintang yang terbit dari Yakub bersinar di dalam hati kami, agar hidup kami memantulkan kerahiman-Mu dan menuntun sesama kepada terang-Mu.
Datanglah, ya Tuhan Yesus.
Jadilah terang hidup kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

