| Red- Joss.com | Setiap kali melayat, hati ini tersayat. Saya seperti hendak mengubur diri sendiri dalam senyap dan suram.
Senyap, karena tidak banyak orang datang melayat untuk turut berduka cita dan berdoa. Untuk memberikan penghiburan dan peneguhan jiwa bagi keluarga yang ditinggalkan.
Suram, ketika saya membayangkan tubuh ini berbaring dalam lorong gelap nan sunyi, dan sendiri.
Saya merasakan berjuta orang kehilangan rasa empati dan peduli, ketika dikuasai teknologi. Mereka hadir dan seakan terwakili lewat ucapan WA basa basi.
Dulu, ketika kecil, saya melihat dan merasakan keguyupan orang-orang yang bergotong royong untuk kerja bakti di lingkungan, membantu warga membangun rumah, dan teristimewa saat ada tetangga yang meninggal.
Faktanya kini, hal seperti itu sulit ditemukan, dan langka sekali. Karena kelak tidak mau mati dalam kesunyian, saya berusaha untuk hadir, jika ada tetangga, kenalan, atau relasi yang wafat. Sekiranya kesibukan itu tidak bisa ditunda, saya minta anggota keluarga untuk mewakili.
Sesungguhnya yang membuat saya berusaha untuk ada dan hadir pada orang yang susah atau berduka, karena saya disadarkan oleh kata-kata Yesus. Ketika itu Simon dari Kirene membantu memanggul salib Yesus menuju Golgota.
”Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! (Lukas 23:28)
Teguran Yesus untuk menangisi diri sendiri itu tepat menembus jantung agar kita menyesali kesalahan dan dosa sendiri dengan kesungguhan hati.
Kita harus berani berubah untuk perbarui diri. Hidup bertobatan dengan semangat rendah hati untuk menjadi baik, dan lebih baik lagi.
Selalu menangisi diri sendiri, bahwa kita telah ditebus Yesus agar kita tidak mengecewakan dan membuat hati kudus Yesus terluka. Hidup secitra dengan-Nya.
Menangisi diri sendiri menuju jalan kekudusan. Hidup berkenan bagi Tuhan
…
Mas Redjo

