| Red-Joss.com | Untuk bisa menangkap inti suara panggilan Tuhan itu dibutuhkan waktu, pengalaman, dan ketajaman hati. Kombinasi dari ketiganya itu membuat pribadi yang terpanggil bisa melayani dengan maksimal, bahkan pelayanannya benar-benar sangat baik.
Sesungguhnya, kapan dan di mana pun, Tuhan bisa memanggil kita. Bagi Tuhan tidak dibatasi waktu dan tempat. Dia bisa melakukan apa saja: kita siap atau tidak siap. Lihat, pengalaman Samuel. Sampai 3 kali ia mendengar suara panggilan itu.
Bagi pribadi yang merasa terpanggil, ia harus menguji dan diuji lewat pengalaman-pengalaman. Proses yang kedua ini unik, karena ia harus mengolah pengalamannya sendiri dan melihat pengalaman dari orang lain. Ia melihat kemurnian panggilannya, dan dia juga bisa melihat dan menilai kemurnian panggilan yang lain. Sehingga ia bisa mengukur keseriusannya, dan mengukur keseriusan dari yang lain.
Sesungguhnya, siapa pun yang telah terpanggil harus bisa menguji semuanya itu dalam pengalaman-pengalamannya. Pengolahan pengalaman ini sangat baik, jika ada yang mendampingi. Lihat tantangannya: kemurnian selalu menjadi tantangan yang tidak bisa diremehkan. “Kemurnian tubuh dan jiwa. Kemurnian hati dan pikiran” sangatlah dibutuhkan. Jika tidak, banyak pribadi yang terpanggil, tapi hatinya mendua, bercabang. Hidupnya tidak fokus. Sehingga hal itu sangat disayangkan.
Memiliki kepekaan dan ketajaman hati untuk menentukan pilihan itu bisa dilihat dari cara orang membuat keputusan. Kita dapat melihat dari kebiasaan atau tingkah lakunya sehari-hari.
Tentu kita ingat, saat Yohanes Pembaptis bicara kepada muridnya sambil menunjuk pada sosok Yesus,
“Lihat, Anak Domba Allah.” Lalu, mereka mengikuti Yesus. Mereka lalu bertanya, “Guru, di mana Engkau tinggal?” Jawab Yesus, “Datang dan lihatlah.” Yesus tidak mau menggurui. Dia mengundang mereka untuk datang dan mengalami sendiri. Mereka harus menggunakan ketajaman hati sebelum memutuskan untuk mengikuti-Nya.
Sesungguhnys panggilan Tuhan itu tidak untuk main-main atau dianggap ‘fun-fun’ saja. Tidak! Jika kita mengikuti prosesnya dengan baik. Antara, ia yang terpanggil dan Dia yang memanggil, ada ‘deal-deal’ yang hanya diketahui oleh keduanya. Hal itu terjadi dalam waktu, pengalaman dan ketajaman hati.
Mari, kita berdoa untuk mereka yang menanggapi panggilan Tuhan agar mereka hidup dalam “kemurnian tubuh dan jiwa. Dalam kemurnian hati dan pikiran. Tidak hidup bercabang, karena harta, tahta, dan wanita.”
Tetap fokus! Meski banyak orang yang tidak berkenan dengan yang bercabang-cabang, tapi pekalah dengan perasaan IA yang memanggil kita.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

