“Memotivasi diri dan menginspirasi, karena hidup ini anugerah Tuhan yang harus disyukuri.” -Mas Redjo
Saya bersyukur, karena diingatkan dan disadarkan oleh firman Tuhan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang ke luar dari mulut-Nya” (Mat 4: 4).
Jujur, semula saya getol berburu rente. Saya berubah drastis, karena diingatkan homili Romo tentang anak yang hilang. Juga lewat anak sahabat yang saya anggap seperti anak sendiri, ketika main ke rumah.
“Malam, Pakdhe. Kalau tasnya keberatan, boleh saya bawain pulang…,” guraunya.
Jleb! Saya terhenyak. Kata-katanya yang sederhana itu membuat saya seperti diingatkan, sebenarnya apa yang saya cari selama ini?
Ketika saya mewujudkan target demi target dan goal demi goal, karena saya tidak mau dihina dan diremehkan tetangga. Saya ingin menjukkan jadidiri pada mereka. Saya termotivasi dan harus sukses, dibandingkan mereka. Lalu, apakah kesuksesan dan pujian itu yang aku cari?
Ketika saya memburu pengakuan dan demi gengsi, ternyata hati ini tidak terpuasi. Sebaliknya saya makin berambisi untuk mencari yang lebih tinggi lagi. Saya jadi lupa waktu dan lupa diri, baik untuk keluarga, sesama, dan Tuhan yang anugerahi semua ini.
Homili Romo tentang anak yang hilang, karena berburu kenikmatan dunia. Juga dikaitkan dengan hidup yang tidak sekadar didasari makan saja, tapi yang utama hidup dari firman-Nya itu menohok jiwaku.
Begitu pula dengan gurauan anak sahabat itu telah menyentuh hatiku. Selama ini waktuku habis untuk berburu rente. Tidak ada waktu libur. Bahkan sepulang Misa Minggu pagi, saya langsung pergi mengirim barang ke pelanggan.
Anehnya, kesibukan yang menguras energi dan waktu itu tidak membuat hati ini terpuasi. Sebaliknya serasa hambar dan kosong. Hubungan saya dan keluarga, khususnya anak serasa jauh dan kurang akrab.
Tiba-tiba saya diingatkan dengan nasihat bijak Paus Fransiskus, “Ketika hati tertutup, ia jadi keras seperti batu. Ia melupakan kelembutan.”
Ternyata hati ini mengeras, karena saya tidak mau direndahkan. Saya mendendam dan jadi sombong. Pembuktian diri itu tidak salah, asal kita tidak mendendam. ‘Menang tanpa ngasorake’, alias mengalahkan tanpa merendahkan orang lain.
Tidak seharusnya saya menjauhi mereka yang merendahkan dan menghina itu, tapi didekati dan dirangkulnya. Saya harus bisa memilih dan memilah untuk mengambil hal-hal baik dan positif agar hati ini tidak mudah terluka. Karena hikmat Tuhan dinyatakan pada pribadi yang rendah hati.
Saya bersyukur, karena hati ini disentuh-Nya, segera disadarkan untuk berubah, perbaiki diri, dan jadi baik.
Sejatinya apa pun yang kita miliki itu bersifat sementara. Kita hanya mempunyai hak pinjam pakai. Karena semua ini milik-Nya.
Mas Redjo

