“Budaya ‘sapa aruh’ itu makin bermakna, ketika kita berbagi pada sesama untuk menemukan Allah yang bertakhta di hati.” –Mas Redjo
Sekadar ‘sapa aruh’ itu tidak cukup, tapi makin bermakna, ketika kita kian peduli untuk memanusiawikan sesama.
Semangat untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri itu harus dihidupi. Kita tidak cukup sekadar ‘sapa aruh’, tapi dengan tindakan kasih yang nyata.
Kepedulian kita untuk berbagi itu tidak sekadar didasari materi, tapi dari semangat kasih tanpa pamrih agar hidup kita berguna bagi sesama.
Syarat utamanya untuk berbagi ikhlas hati adalah, kita harus terlebih dulu mengenali diri sendiri.
Sebelum ber-‘sapa aruh’ kepada sesama, lebih dulu kita melakukan hal yang sama dengan diri sendiri. Tujuannya agar kita tidak asing dengan kesejatian diri ini. Karena hidup ini anugerah Allah yang harus disyukuri dan dimaknai.
Ketika kita bertanya orientasi hidup berbagi pada sesama: niat dan tujuannya agar kita sungguh ikhlas hati.
Kita tidak harus kecewa, sakit hati, dan terluka, ketika kenyataannya itu tidak sesuai dengan harapan. Kita tidak memburu ekspektasi demi gengsi dan pencitraan semata. Tapi dari panggilan hati. Kita peduli dan ingin menghadirkan wajah Allah dalam hidup keseharian.
Dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri, sejatinya agar orang lain juga melakukan hal yang sama kepada kita.
Dengan bersikap positif terhadap diri sendiri itu akan membantu kita memperlakukan sesama dengan kasih yang sama. Mengasihi ikhlas hati dan bahagia.
Mas Redjo

