Menanak nasi, kok dijadikan bubur.
“Apa kau menanak nasinya di ketel itu kebanyakan air, lalu diaduk terus?” tanya Guru Bijak. Cantrik itu salah tingkah.
“Menurut Guru, kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat?!”
“Lho?! Kau ke luar dari subtansi, Ngger. Kau berbuat salah itu tidak nyadar, disengaja, atau…?!”
Cantrik ini menunduk kikuk.
“Sebenarnya masalah itu pada ‘ego’ kita yang tidak peduli. Kita kehilangan rasa kepedulian. Kita berpura-pura tidak tahu, atau kita cenderung lebih cepat bertindak untuk mendahului. Kita berkata-kata dan berbuat dulu, lalu mikirnya belakangan itu suloyo.”
“Guru…”
“Ya, dalam menyikapi suatu hal, masalah apa pun itu, hendaknya kita bersikap tenang, menelaahnya, menghitung untung dan rugi, juga akibat yang ditimbulkan dari sikap atau tindakan kita. Faktanya…?!”
“Banyak di antara kita yang mudah reaktif dan responsif. Kita merasa diremehkan dan harga diri ini dilecehkan. Apalagi, jika ada ganjalan di hati, ketidaksukaan, iri, atau dendam. Sehingga kita ribut sendiri dan bikin gaduh.”
“Kita mudah tersinggungan, emosi, marah, dan caos. Karena kita lebih mengedepankan gengsi dan tidak berpikir jernih. Akibatnya, tindakan kita itu merugikan banyak orang, dan berujung pada penyesalan.”
“Apakah penyesalan itu datang terlambat? Kita pernah berbuat salah, tapi kita mengambil hikmahnya. Sebagai pembelajaran untuk lebih mematangkan pola pikir kita agar tidak terperosok ke lubang yang sama. Melakukan kekonyolan demi kekonyolan dengan merugikan banyak orang.”
“Begitu pula denganmu. Menanak nasi, tapi dijadikan bubur itu ibarat kau menukar pohon mangga dengan pohon cabe. Tapi apa fungsi semua pohon itu sama…?!”
“Milikilah pribadi yang berani berbuat berani pula bertanggung jawab. Berani mengakui salah untuk meminta maaf, dan memperbaiki diri.”
“Caranya?! Biasakan untuk selalu berpikir positif dan meninggalkan egoisme. Tidak mudah memang; sekiranya kita tidak belajar untuk mengendalikan diri bersikap tenang dan berpikir jernih.”
“Belajarlah dari pengalaman, Ngger. Karena kita menanam pasti menuai. Kita menuai untuk diri sendiri, istri, anak, atau cucu? Apa jadinya, jika yang ditanam itu keburukan dan aib?!”
“Supaya tidak menyesal belakangan, ya, kita terus belajar bersikap tenang dalam setiap masalah. Kita kendalikan egoisme dengan berpikir positif dan mengontrolnya dengan nurani.”
Penyesalan itu selalu datang terlambat?
Ndak, tuh. Karena egoisme itu harus ditinggalkan. Saatnya kita disiplin membiasakan diri untuk duduk bersama dengan hati demi mufakat dan masa depan yang lebih baik.
Jadilah rendah hati dan bijak untuk melayani!
Mas Redjo

