Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Apa isi “takaran/ukuran sebuah kesempurnaan hidup?” Bilamana seorang dianggap sudah sungguh berkarakter?
Apakah takarannya, jika Anda dianggap telah memiliki kecakapan hidup yang mumpuni atau pun hidup sukses?
Jika semua kenyataan hidup kita sudah dianggap layak dan sukses. Hal ini pun sia-sia, jika kita ternyata belum memiliki sebuah karakter mulia.
Dari mana isi takaran itu kita peroleh? Ya, dari realitas hidup harian kita. Lewat sebuah komunitas kebersamaan. Atau pun di tempat kerja, juga di dalam sebuah organisasi.
Inilah sejumlah indikator pribadi yang belum memiliki karakter mulia!
Ketika berkuasa, Anda bertindak semena-mena, karena Anda masih sangat haus akan pangkat dan jabatan.
Ketika dinasihati dan dibimbing, Anda pun masih sangat mudah tersinggung, gampang meradang, dan marah-marah.
Ketika diremehkan, Anda pun segera bersikap menantang dan mengamuk.
Ketika disakiti, Anda pun segera mau membalas.
Semua sikap berikut: menolak, menantang, tidak ikhlas, gampang tersinggung, bersikap semena-mena; hal itu menandakan, bahwa Anda tidak rela untuk dibentuk. Anda tidak ikhlas saat dikikis oleh sesama atau pun sebuah sikon.
Ternyata para pembangkang, pemarah, penguasa lalim, pemberontak itu adalah orang-orang yang tidak setia, tidak ikhlas, tidak tulus, bahkan tidak bersikap rendah hati.
Jika kita sejenak mau merenung dan merefleksikan isi serta takaran dari kualitas kehidupan model ini, maka sesungguhnya, kita belum memiliki karakter mulia itu.
Kristus, Sang Guru Agung dan Tuhan kita adalah model kesempurnaan dan suri teladan dari sang kesempurnaan itu.
Dia yang adalah Tuhan yang Mulia, justru telah rela turun ke dunia. Bahkan Dia rela menjadi manusia, merasakan disakiti, wajah-Nya pun diludahi, dan bahkan disalibkan. Itulah contoh-contoh riil kepribadian yang telah berkarakter mulia.
Tolok ukurnya justru terletak di dalam sikap dan tindakannya yang setia, ikhlas, serta rela berkorban.
…
Kediri,ย 7ย Novemberย 2023

