| Red-Joss.com | Kita mungkin masih ingat peribahasa melayu yang berbunyi: “Siapa menabur angin, akan menuai badai” artinya siapa melakukan perbuatan (buruk), ia akan menanggung akibatnya. Tentu saja berlaku kebalikannya, siapa yang melakukan perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan hasilnya.
Manusia memang akrab dengan kelalaian. Lalai memenuhi kewajiban dan hak. Manusia acapkali merampas hak orang lain, karena hawa nafsu yang tak tertahan atau sebagai buah ‘eksploitasi kewenangan’ yang dimiliki, karena punya kuasa atau punya harta. Lupa dengan hukum sebab akibat yang bunyinya ngunduh wohing pakarti.
Ngunduh artinya memetik.
Woh artinya buah
Pakarti artinya perbuatan.
Ngunduh wohing pakarti arti harfiahnya adalah memetik buah dari yang diperbuatnya. Makna gramatikalnya adalah bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan atau akibat yang sesuai dengan apa yang telah diperbuat.
Ungkapan setara dengan ngunduh wohing pakarti adalah becik ketitik – ala ketara, yang artinya perbuatan baik akan tampak, dan perbuatan buruk akan terungkap. Maksudnya, setiap perbuatan yang baik pasti akan diketahui oleh orang, meskipun ia tidak menampakkannya.
Sebaliknya, perilaku buruk cepat atau lambat pasti terungkap. Serapat apa pun menutupi busuknya, pada akhirnya akan tercium juga.
Ungkapan becik ketitik ala ketara ini satu ‘piweling’ agar senantiasa berbuat baik dan melawan perilaku buruk, karena yang baik dan yang buruk semua akan nampak dan mendapat ganjaran setimpal dengan yang diperbuat.
Kita diberi banyak peluang untuk berbenah dan berbenah, dengan banyak berkarya baik.
Marilah kita gunakan peluang itu, sebab Hanya kebaikan saja yang dapat didengar oleh orang tuli dan dapat dilihat oleh orang buta. Bersama dengan mereka kita kembali bersujud: “Ampuni ya Tuhan, dan kasihani, kami yang berdosa ini.”
Setia berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

