Tentu kita masih ingat lagu “Menabung” yang pernah ngehit itu dibawakan oleh Saskia, Geofani, dan Mbak Titiek Puspa. Suatu ajakan yang dihembuskan sejak kecil oleh orangtua, supaya kita laku hidup prihatin untuk berhemat dan gemar nabung.
Menabung uang itu biasa, tapi yang luar biasa itu adalah menabung kebaikan.
“Eit, sok suci, lo!”
Barangkali, kata itu yang terlontar dari mulut kita. Tapi tidak ada salahnya untuk direnungkan bersama. Apalagi dalam menghadapi era digitalisasi dan dekadensi moral yang dewasa ini makin memprihatinkan.
Menabung uang itu mengajar anak untuk hidup prihatin dan sederhana, sekaligus mengajak anak untuk berpikir, bagaimana cara mereka mewujud-nyatakakan barang yang diimpikan, atau cita-citanya.
Sebaliknya, menabung kebaikan itu adalah hal yang (belum) tidak pernah terpikirkan oleh kita. Mengapa?
Umumnya kita membekali anak untuk jadi pandai, hebat, dan juara. Jarang sekali orangtua yang membekali anak dengan unggah ungguh, tata krama, budaya tertib, dan berperilaku baik.
Faktanya banyak orangtua yang menyerahkan pendidikan anak itu sepenuhnya di sekolah! Di rumah, anak dengan ART. Bahkan banyak di antara kita yang berdalih: sibuk bekerja, banyak kegiatan, dan seterusnya. Kita tidak mau disibuki oleh urusan anak. Yang penting kebutuhan anak itu dipenuhi, dan beres!
Sejatinya menabung kebaikan itu tidak melulu melakukan hal-hal yang besar, hebat, spektakuler, dan apalagi dipublikasikan lewat tv. Sebaliknya kita bisa melakukan hal-hal kecil, tapi dengan cinta yang besar. Bagaimana anak berperilaku sopan, menghormati orang yang lebih tua, tertib mengantri, peduli, dan belas kasih kepada semua ciptaan-Nya.
Dengan menyemai bibit kebaikan pada anak sejak dini, kita tidak perlu takut melepas anak dalam menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya di kemudian hari. Karena, siapa menabung kebaikan akan memanen buah sukacita yang tidak berkesudahan.
Mas Redjo

