Ada tertulis: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mark 7: 6b).
Apakah Anda sungguh telah memuliakan dan memuji Tuhan dengan sepenuh hati? Tidak jarang, baik secara sadar maupun tidak, kita justru mencuri kemuliaan Tuhan. Kita memuji-Nya dengan kata-kata, tapi hati kita jauh dari-Nya. Bahkan dalam berbagai kesempatan seperti Misa, ibadat, atau adorasi, kita mungkin hadir secara fisik dan turut bernyanyi, namun pikiran kita melayang ke mana-mana. Hati kita tidak sungguh tertuju kepada Tuhan.
Memuliakan Tuhan tidak hanya dilakukan saat segalanya berjalan baik. Justru dalam situasi sulit, ketika kita ditolak, menderita, atau difitnah pujian kita jadi lebih murni. Di situlah iman diuji, dan rahmat Tuhan justru melimpah. Sayangnya, di saat seperti itu, pujian mudah tergantikan oleh keluhan. Kita merasa Tuhan jauh. Padahal, pujian yang lahir dari penderitaan adalah bentuk pengakuan iman yang sejati.
Injil hari ini mengajak kita untuk senantiasa memuliakan Tuhan dengan segenap hati, pikiran, dan perkataan dalam segala situasi, bukan hanya saat senang, melainkan juga saat susah. Ketika kita setia memuji-Nya, nama-Nya akan semakin ditinggikan, dan kita pun dibentuk jadi pribadi yang semakin percaya, tabah, dan rendah hati.
Sr. M. Hillary, P. Karm
Selasa, 10 Februari 2026
1 Raj 8: 22-23.27-30 Mzm 84: 3-5.10-11 Mrk 7: 1-13
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

