“Pengalaman membuktikan! Ketika mempersulit orang lain, sejatinya kita menutup rezeki sendiri.” -Mas Redjo
…
“Bukan hanya kapok, melainkan jadi titik awal perubahan hidup saya secara benar dan makin baik,” aku DD membagikan kisahnya.
Kilas balik perubahan sikap DD itu bermula, ketika usaha yang diwariskan orangtuanya itu hancur gara-gara ia salah mengelola, dan meninggalkan banyak hutang.
DD menyalahgunakan kepercayaan dari pemasok barang ke pabriknya. Banyak tagihan ke pelanggannya yang macet itu digunakan pula sebagai alasan mempersulit pembayaran ke mitra pemasoknya. Karena merasa dibutuhkan, dan melihat para pemasok itu seperti antre menunggu order darinya, sehingga ia menyepelekan mereka!
Ternyata ia keliru, para pemasaran barang itu saling berhubungan satu dengan yang lain. Akibatnya ia jadi sulit memperoleh barang kebutuhan pabrik. Ia terpaksa membeli secara tunai, jika pabrik ingin operasional.
Salah seorang pemasok barang yang tidak dibayarnya itu meminta tolong padanya, “Jika ia mempunyai rezeki, dan ingin membayar hutang agar disumbangkan ke fakir miskin.” Sedang ‘sales’ itu yang menomboki, karena melunasi hutangnya ke kantor!
Aneh, tapi nyata. Karena sejak saat itu usahanya menurun drastis dan banyak pedagangnya yang pindah ke pesaing lain, sehingga usahanya nyaris tutup.
“Jika mempunyai rezeki dan berniat membayar hutang, tolong uangnya disumbangkan….” Kata-kata ‘sales’ itu mendenging di telinganya lagi, menggetar hati, dan memunculkan kesadaran: penyesalan!
Rasa bersalah dan berdosa pada ‘sales’ itu amat mengganggu dan memberati pikirannya. Bukannya memenuhi kewajiban, tapi semua itu demi memanjakan gengsinya dengan kemewahan. Sedang ia memanen hasil usahanya itu di depan!
Tiba-tiba pandangannya berhenti pada mobil yang belum lunas dikreditnya itu. Bagaimana harus melunasi, jika usaha berhenti dan tutup?
Ia menarik nafas panjang. Mobil itu harus dijual untuk melunasi hutang-hutangnya. Amanah Abi harus dijalankan, dan ia tidak mau mengecewakannya.
“Ya, Allah beri saya kesempatan lagi,” bisik DD lirih.
Keanehan kembali terjadi, setelah hutangnya ke pelanggan yang minta disumbangkan ke yatim piatu itu dituruti, pelan-pelan usahanya bangkit kembali.
“Saya juga harus melunasi hutang saya ke pemasok yang lain,” putus DD mantap. Pikirannya tenang, dan hatinya jadi damai.
Matur sembah nuwun, Gusti.
…
Mas Redjo

