Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
(Nabi Muhammad SAW)
…
| Red-Joss.com | Saya pernah membaca sebuah kisah unik yang sangat menarik dan sarat makna dari buku berjudul, โBerguru pada Saruโ, karya Hamdan Hamedan.
Suatu hari, saat Kanjeng Nabi sedang duduk di pendopo rumahnya, mendekatlah seekor kucing dan bahkan kucing itu sempat tertidur pulas di ujung jubah beliau.
Sang Nabi sungguh tak sudi mau mengusik si kucing yang sudah terlelap di ujung jubahnya.
Juga pada saat itu, terdengarlah suara azan yang sangat keras, tapi kucing itu masih terlelap juga.
Lalu, apa yang dilakukan Kanjeng Nabi? Dengan perlahan, diraihnya sebuah gunting, kemudian beliau memotong jumbai jubahnya dengan penuh kehati-hatian dan tanpa bersuara.
Dengan perlahan pula Kanjeng Nabi itu bangun dan bergegas ke Masjid.
Apa reaksi dan kesan Anda setelah membaca kisah unik ini?
Ya, saya merasa sungguh menarik dan kagum pada sikap serta reaksi ekstra lembut dari Kanjeng Nabi.
Sikap yang kian memesonakan saya ialah beliau bahkan rela untuk memotong ujung jumbai jubahnya sendiri.
Mengapa beliau justru tidak mengusik dan bahkan menghardik keras si kucing? Itulah sebuah kelembutan sejati yang dimiliki sang Nabi. Itulah pula tabiat sejati dari sang Penyabar.
Sang Penyabar sejati itu tidak akan pernah mau mengusik atau mengganggu siapa pun di dalam sepanjang ziarah hidupnya.
Bahkan kepada pihak yang mengganggu dan bahkan yang mau merampas hak-hak hidupnya, dia seolah membiarkan saja.
Mengapa demikian? Bukankah sikap halus lembut itu adalah sebuah ekspresi dari karakternya? Itulah sebuah gambaran transparan dari karakter agung dari seorang manusia sejati.
Camkan, apa sikap dan tuturan beliau tentang pentingnya sikap manusia untuk menyayangi semua makhluk hidup di atas bumi?
“Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Sungguh, ketika realitas hidup harian kita justru dipenuhi dengan aksi saling mengejek dan mengolok-olok, bahkan saling memaki, dan bahkan membunuh. Semoga roh sejati dari kisah kelembutan dan kasih sayang ini, dapat menjadi obat mujarab bagi letih jiwa kita.
Mari di dalam ziarah hidup yang sangat singkat ini kita juga berani memotong ujung jubah kuasa dan gengsi kita.
Sungguh, “kelembutan dan kasih adalah obat yang paling mujarab menyembuhkan luka-luka batin hidup kita.”
…
Kediri,ย 1ย Aprilย 2024

