Setelah Rabu Abu, liturgi hari pertama mengajak kita untuk merenungkan tentang berkat Allah. Masa Prapaskah ini sangat spesial mengenai disiplin beriman dengan tuntutan volume dan kualitas yang lebih kuat, dibandingkan dengan masa-masa liturgi lainnya. Berkat Tuhan sangat kita perlukan demi terwujudnya proses pendisiplinan diri, karena Tuhan berkenan dengan berkat-Nya bagi setiap orang yang mengharapkan keselamatan dirinya.
Dengan memilih berkat, lalu apakah yang tidak kita pilih? Jika Tuhan memberikan kita berkat-Nya, hal apakah yang tidak Tuhan berikan? Dalam Kitab Ulangan menegaskan, bahwa kutuk dan penyiksaan dosa itu bukan pilihan kita. Faktanya, ada orang yang memilih kutuk atau sengsara, karena dituntun oleh kebebasan kodratinya. Tuhan menyelenggarakan hidup ini pada awalnya adalah baik. Karena kejatuhan kodrati manusia, maka kehadiran kebaikan itu harus berhadapan dengan kutukan dosa. Orang bisa memilih untuk berdosa. Sedang orang yang beriman dinasihatkan untuk memilih berkat.
Memilih berkat berarti memilih Tuhan. Sedangkan memilih kutuk berarti memilih setan. Yang ada pada Tuhan ialah kehidupan, cinta, dan pengharapan akan suatu keberlangsungan yang abadi. Sedangkan yang ada pada kutuk ialah kematian, kebencian, dan kesengsaraan abadi.
Yesus Kristus diutus oleh Bapa ke dunia untuk mendirikan sebuah Kerajaan kehidupan supaya memerintah dan membawa semua orang kepada berkat. Ajaran dan teladan hidup-Nya jadi pelita dan sumber air yang menjamin keberlangsungan berkat ini dalam bentuk rahmat karunia yang dicurahkan kepada setiap orang yang memerlukan.
Yesus memaparkan isi pilihan kita untuk mengikuti Dia supaya daripada-Nya mengalir semua berkat yang kita perlukan. Di dalam masa Prapaskah berkat-berkat kita dapatkan melalui berdoa, berpuasa, dan beramal kasih. Ketiga perbuatan ini mesti dapat dijalankan dalam semangat salib yang dipikul dan ketekunan kita dalam penyangkalan diri. Salib selalu bermakna pengorbanan dan menghadirkan beban yang harus ditanggung. Kita berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih dengan sebuah volume jumlah serta berkualitas yang membuat kita menanggung beratnya seperti yang Yesus lakukan. Ketiga perbuatan saleh itu harus membawa kita untuk fokus kepada penyatuan hati kita dengan Tuhan, dan bukan kepada diri sendiri dan semua kepentingan duniawi. Dari sana berkat-berkat itu mengalir kepada kita.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, firman-Mu menguatkan niat kami untuk memanggul salib dan menyangkal diri untuk dengan tekun mengikuti-Mu. Berkatilah kami supaya sepanjang jalan mengikuti-Mu, kami menemukan jati diri kami yang sebenarnya. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

