Mat 1: 16.18-21. 24a atau Luk 2: 41-51a
“Media sosial saat ini jadi sarana yang paling canggih untuk menyebarkan berbagai macam berita, entah baik atau buruk. Sayangnya banyak orang memilih menggunakan media sosial untuk menyebarkan keburukan, kesalahan, dan dosa orang lain. Ketulusan St. Yusuf jadi senjata untuk melawan kecenderungan buruk itu, karena sekalipun ia memiliki dasar untuk mempermalukan Maria, tunangannya yang berkhianat, namun tindakan sebalikna yang dia ambil, yakni melindunginya.”
Ketulusan St. Yusuf itu ditemukan dalam Injil hari ini: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (ayat 19).
Pelajaran penting bagi kita adalah:
1) Sadarlah, bahwa Anda memiliki kemampuan untuk mengontrol setiap kata dan tindakanmu;
2) Memang kita tidak bisa mengharapkan orang yang bersalah kembali ke masa hari kemarin untuk memperbaiki kesalahannya, namun setidak-tidaknya kita memberi ruang bagi mereka untuk sadar, bertobat, dan berubah;
3) Ketulusan tidak kompromi terhadap kesalahan, bahkan kejahatan orang lain. Tapi bisa menyadarkan yang salah dan berdosa untuk memahami, bahwa masih ada hati seperti Bapa di Surga yang mau menerimanya, jika ia bertobat.
Ingatlah, bahwa ketulusan itu bukan atribut orang lemah, melainkan orang kuat yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Sehingga lebih memikirkan kebaikan orang lain daripada kesakitan luka hatinya.
Monsignor RD Inno Ngutra

