Kadang, kita terjebak dalam dinding pikiran sendiri. Kita merasa hanya luka kita yang paling perih, dan hanya cara pandang kita yang paling benar. Itulah ‘solipsisme’ – saat kita merasa jadi pusat semesta, lalu mengabaikan dunia luar.
Ketika hidup ini hanya berputar pada diri sendiri lama-lama akan terasa menyesakkan.
Solidaritas itu lahir saat kita berani membuka jendela ‘ego’. Kita menyadari, bahwa orang di sekitar kita juga sedang memperjuangkan hidupnya. Mereka mempunyai beban yang tidak terlihat, dan harapan yang sedang dirajut.
Empati adalah memperluas atap hati agar orang lain bisa ikut berteduh. Saat kita mendengar untuk memahami; bukan menghakimi, melainkan jembatan kebersamaan mulai terbangun.
Di dalam grup, kita tidak berjalan sendiri. Kita adalah rangkaian cerita yang saling menguatkan.
Berkah Dalem.
Jlitheng

