Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka hati nurani adalah kompasnya, dan masa puasa adalah waktu untuk berhenti sejenak guna memastikan, bahwa kita tidak sedang berjalan menuju jalan buntu (kesia-siaan).
Dalam perjalanan itu kita membiarkan diri dipimpin Allah berarti kita bersedia mengubah rute hidup saat suara hati (sabda-Nya) mengingatkan, bahwa kita mulai melenceng. Ini adalah jaminan agar langkah kita sampai pada ‘tujuan akhir’ (kehidupan abadi), tidak sekadar berputar-putar di dunia yang fana ini.
Berkah Dalem.
…
Jlitheng

