“Membangun rumah mewah itu hebat. Tapi membangun hidup beriman dalam keluarga itu yang berkenan bagi Allah.” -Mas Redjo
Semula saya berpikir, mempunyai rumah mewah dan seisinya yang serba lux itu keren. Tapi melihat tetangga yang kaya raya, tapi keluarganya berantakan itu membuat saya berefleksi. Saya seperti diingatkan dengan nasihat bijak Guru Agung, bahwa “Membangun yang dilihat dunia itu mudah, tapi yang sulit itu membangun rumah iman keluarga.”
Inti nasihat Guru Agung adalah, saya diajak untuk mendahulukan membangun hidup beriman dalam keluarga yang didasari hati yang mengasihi. Saya diingatkan pula, jikapun dianugerani kelimpahan-Nya agar saya tetap bersahaja. Tidak untuk dipamerkan, karena sifat keduniawian itu sesaat. Tapi untuk disyukuri dan rendah hati.
Saya bersyukur, karena bertumbuh dalam keluarga sederhana yang guyup rukun. Teristimewa, orangtua mengajari hidup keimanan anak itu sejak dini melalui doa bersama keluarga agar kami jadi terbiasa. Misalnya, ketika makan, ke Gereja bersama keluarga, dan seterusnya. Membangun kebersamaan itu amat penting, karena hal itu jadi saat yang terindah dan kebahagiaan keluarga.
Mendisiplinkan kebiasaan hidup berperilaku baik, jika diterapkan dalam keseharian itu akan terpatri di hati, sehingga jadi gaya hidup keluarga yang bersahaja, rendah hati, dan membumi.
Saya sungguh sadar sesadarnya, bahwa hidup keimanan itu lebih mulia dibandingkan keduniawian. Karena hal yang kasat mata dan bersifat duniawi itu mudah rusak, hilang, dan berlalu. Tapi iman yang membumi itu bakal menghasilkan buah berkelimpahan dan abadi. Dengan memiliki rumah iman yang kuat dan kokoh, kita dijamin aman dan terlindungi dari bahaya si Jahat.
Sejatinya hidup keimanan yang didasari oleh kasih Allah itu bakal meninggalkan jejak di hati. Hidup bermakna bagi sesama, dan berkenan bagi-Nya.
Rumah iman adalah benteng keselamatan jiwa!
Mas Redjo

