“Memenuhi permintaan pasar itu kuno dan ketinggalan zaman. Tapi menciptakan dan membangun pasar sendiri itu untuk menjawab tantangan masa depan.” -Mas Redjo
Resepnya adalah kita harus berani mendobrak kemalasan untuk ke luar dari zona kenyamanan diri ini.
Tidak mudah, tapi tantangan dari Bos itu rugi besar, jika dilewatkan dan berlalu sia-sia.
Persoalannya adalah, Bos meminta saya untuk memfungsikan rukonya itu ketimbang menganggur dan rusak. Bahkan Bos siap membantu pendanaannya, jika dibutuhkan. Bos ingin bekerja sama dan bagi keuntungan?
“Jangan! Keahlianmu dimanfaatkan Bos. Kau bakal ditendang!” ego saya mengingatkan. Bisa jadi Bos mencari ilmu, memanfaatkan, dan mendepakmu, setelah usaha itu maju?
“Jangan berprasangka buruk. Coba ditelaah sikap Bos terhadapmu dan ke orang lain. Bos tulus,” hati kecilku mengingatkan.
Kebaikan serupa juga diteruskan pada teman yang lain, ketika Bos ditawari sahabatnya, jika hendak menggunakan rukonya di sentra perdagangan yang sekian lama belum laku dijual. Tidak menyewa, tapi hanya membayar IPL ruko bulanannya. Menempati sentra perdagangan yang sepi, bahkan nyaris mati itu berarti biaya operasional besar, ketimbang pemasukkan, alias nombok.
Faktanya dunia usaha sedang mati suri. Banyak perusahaan gulung tikar dan krisis pembeli kali ini amat parah, dibandingkan dengan saat pandemi covid lalu.
Bersyukur, saya senang berinovasi mengasah kreativitas mencoba hal-hal baru. Dari usaha masakan di kaki lima, lalu meningkat pindah ke ruko. Bahkan ditawari Bos untuk menggunakan rukonya, ketimbang kontrak.
Jujur, saya kaget, grogi, dan minder! Ruko Bos itu dua lantai dan luas. Saya tertantang dan termotivasi, tapi saya belum siap mental!
Dalam usaha kuliner saya senang berkreasi, karena sadar, sekadar mengikuti pasar itu cepat-lambat bakal ditinggalkan. Sehingga saya dituntut untuk terus berinovasi dan berkreasi menciptakan masakan baru untuk menciptakan dan membangun pasar sendiri.
Mengikuti selera pasar itu banyak kompetitornya. Tanpa menciptakan dan menyajikan tren masakan baru terus menerus, pasar bakal jenuh, bosan, dan usaha itu akan ditinggalkan pelanggan yang ingin selalu mencari sensasi baru.
Restoran Lansia
Tiba-tiba teringat oleh saya, Bos itu adalah ketua lansia dalam suatu komunitas. Terbertik keinginan saya untuk membuka restoran khusus lansia. Dari lansia untuk lansia. Mulai dari tukang masak hingga pramusajinya semua dikerjakan oleh lansia.
Selain memberdayakan lansia, juga menumbuhkan semangat hidup mereka untuk bertemu, berkumpul, dan bernostalgia sambil karaokean agar mereka senantiasa ceria dan bahagia.
Restoran lansia itu menempati lantai bawah, sedang lantai atas untuk kawula muda.
Saya memejamkan mata, menarik nafas untuk menyusun konsep usaha itu dengan cermat dan inovatif. Jika Bos menanyakan, konsep itu akan saya presentasikan secara gamblang. Semoga Bos menyetujui ide itu untuk segera direalisasikan.
Niat ingsun,
Mas Redjo

