Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dunia berubah sangat cepat. Kini, menguasai “emotional quotient,” “intelligent quotient,” dan
“spiritual quotient” saja tidak cukup. Generasi saat ini membutuhkan dua kecerdasan lain, yaitu “digital quotient” dan Indonesian quotient.”
(Mohammad Nuh)
…
| Red-Joss.com | Nuh meyakini, dengan semangat optimisme, Indonesia akan bangkit pada era emas tahun 2045 mendatang. Tak dimungkiri, ada pihak yang seringkali bersikap pesimisme dan tidak peduli, “Ah. . . enggak mungkin.”
“Justru yang perlu dibangun adalah narasi optimisme. Ini yang harus kita dorong terus .. . demikian Mohammad Nuh, saat memberi sambutan Jumat (21/6/2024) di Jakarta. Kompas, Jumat (28/6/2024).
Kita Membutuhkan Generasi yang Memiliki Aneka Kecerdasan :
(IQ, EQ, SQ, DQ, dan In-Q)
Beliau pun menekankan, bahwa generasi sekarang tidak cukup hanya memiliki kecerdasan IQ, EQ, serta SQ tetapi perlu ditambah dengan DQ dan In-Q.
Sungguh riil, bahwa ketiga kecerdasan utama (IQ, EQ, SQ), itu sudah melekat dalam diri manusia, namun demi mengimbangi arus perkembangan dunia, maka dibutuhkan dua kecerdasan lain, ialah “digital quotient (DQ) dan Indonesian quotient (In-Q), agar nilai-nilai keindonesiaan masuk,” tambahnya.
Untuk bisa bersaing di kancah dunia, dan demi meraih kemajuan di era Indonesia emas (2045), kita membutuhkan perubahan sikap mental khusus lewat kemampuan untuk berpikir tingkat tinggi (the higher lever thinking /the highest level thinking).
Selain itu, ada hal yang sangat monumental yang perlu dibangun ialah sikap optimisme di kalangan masyarakat bangsa kita.
Namun, hal yang seringkali terjadi di kalangan kita ialah sikap frontal / menyerang, karena adanya perbedaan pandangan dan persepsi tentang sesuatu hal baru di kalangan kita.
Antara: Tesis – Antitesis – dan Sintesis
Kegaduhan, bahkan kericuhan seringkali terjadi, ketika hadirnya suatu hal baru. Ada sesuatu / hal baru dalam bidang apa pun.
Ternyata orang belum mampu untuk menerima hal itu sebagai sebuah tesis yang perlu diuji didalami, dan didiskusikan, namun biasanya langsung dihadapkan dengan sebuah kegaduhan.
Alangkah baiknya, jika tesis itu perlu diuji sebagai proses antitesis. Setelah diproses, maka akan melahirkan sebuah tesis, itulah pentingnya sikap demokrasi dalam menumbuhkan budaya yang sehat.
Tetapi hal yang sering terjadi di dalam masyarakat kita ialah sikap menolak dan antipati.
Maka, di dalam kondisi yang serupa ini, tentu tidak akan bertumbuh sikap optimisme di dalam masarakat kita. Karena kita hidup di dalam kondisi yang saling menantang dan meruntuhkan.
Sikap optimisme, justru akan bertumbuh subur di dalam masyarakat yang memiliki iklim keterbukaan dan sikap saling menghormati.
Mari kita bahu membahu membagun sebuah bangsa yang berkultur mulia.
Sikap optimisme itu akan bertumbuh subur di dalam suatu masyarakat yang dapat saling menghargai dan menghormati satu sama lain!
…
Kediri,ย 12ย Juliย 2024

