*Kepercayaan orang itu jangan disalahgunakan untuk kepentingan diri. Tapi untuk dimaknai, karena kita layak dipercaya.” -Mas Redjo
Bagi saya pribadi, dipercaya orang, apalagi oleh Bos itu anugerah Tuhan yang luar biasa agar saya menjaga sikap hati untuk tidak mengecewakan Bos.
Pengalaman ini terjadi tahun 1994, ketika anak saya yang nomor 2 baru seminggu ke luar dari RS. Ia terkena ‘muntaber’, dan harus diopname.
Karena dua Mingguan mengurusi istri dan bayi, saya malu hati pada Bos, karena tidak masuk bekerja. Kami jauh dari keluarga, dan tidak mempunyai ART. Saya telepon dan minta izin berhenti dari pekerjaan pada Bos. Saya menyiapkan diri dan berjaga-jaga untuk terjun ke dunia kewartawanan lagi.
Bos mengomel dan marah. Saya diminta untuk mendulukan dan fokus mengurus keluarga. Bahkan sore harinya Bos menyuruh pesuruh kantor membawa seorang perawat bayi ke rumah saya.
Saya kaget, terharu, dan mata ini berkaca-kaca atas perhatian Bos pada keluarga saya. Apalagi gaji perawat bayi itu ditanggung Bos. Duh!
Kepercayaan Bos yang besar itu makin meneguhkan semangat loyal saya kepada Bos dan memberikan yang terbaik pada perusahaan.
Tidak terasa saya mengabdi di perusahaan Bos hingga 11 tahun. September 2001 saya dengan berat hati pamit pada Bos, karena ingin wirausaha.
Meski berat hati Bos melepas saya, tapi ia bangga dengan tekad saya untuk mandiri.
“Sesekali mampirlah ke kantor,” kata Bos sambil menjabat erat tangan saya.
“Terima kasih atas kebaikan dan kepercayaan Bapak pada saya. Saya mohon maaf dan pamit,” kata saya dengan suara bergetar. Bos menepuk-nepuk bahu saya.
Saya menarik nafas panjang dan meninggalkan kantor dengan langkah berat, tapi hati ini serasa plong.
Saya ke luar dari kantor dengan semangat optimistis. Bunga-bunga harapan saya bermekaran indah dan harum mewangi!
Mas Redjo

