Setiap kali kita bergerak untuk memanusiakan manusia, terutama mereka yang sedang ‘kesraket’ (sengsara) dan miskin, sejatinya kita tidak hanya sedang berderma. Pada saat itulah kita sedang menyembah Tuhan yang menciptakan mereka. Iman kita tidak hanya berhenti di Altar, tapi mewujud nyata di pasar, jalanan, dan di gubuk-gubuk nestapa.
Ketika kita menjumpai sesama yang berada di titik terendahnya, semoga mata batin kita tidak terpaku pada ‘dompet yang kosong’ atau pakaian yang lusuh. Sebaliknya, mari kita belajar melihat sebuah jiwa yang sedang menanti untuk diakui keberadaannya.
Iman yang hidup adalah cara kita memandang mereka dengan tatapan yang sama seperti Tuhan memandang kita:
- Dengan Kasih: Yang merangkul tanpa menghakimi.
- Tanpa Syarat: Yang memberi tanpa menuntut balas.
- Penuh Martabat: Yang mengangkat derajat, bukan sekadar memberi sisa.
Sebab dalam Hati Kudus Yesus, tidak ada manusia yang teruang. Di sana, hanya ada cinta yang tumpah bagi mereka yang kecil dan terhina.
Mari jadi perpanjangan tangan kasih-Nya!
Berkah Dalem.
Jlitheng

