“Inilah jalan sempit yang menuju kehidupan. Yesus mengundang kita bukan kepada kenyamanan, melainkan kepada kebebasan.”
Allah menempatkan di hadapan kami kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Melalui Musa, Allah berkata, “Pilihlah kehidupan.” Melalui Mazmur, Allah menunjukkan jalannya untuk jadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air; berakar dalam, tetap teguh melewati musim, dan berbuah pada waktunya. Dalam Injil, Yesus menyatakan, bagaimana memilih kehidupan itu, yaitu dengan memikul salib.
Yesus datang bukan sebagai Raja yang dielu-elukan, melainkan sebagai Putra-Nya yang harus menderita, ditolak, dan bangkit kembali. Yesus menempuh jalan penyerahan diri. Ia berkata kepada kami: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku.”
Yesus, Engkau memeluk salib bukan karena kalah, melainkan karena taat dan penuh belas kasih.
Ajari kami, bahwa salib itu bukan hukuman, melainkan ambil bagian dalam kasih-Mu. Ketika kami memilih sabar daripada sombong, mengampuni daripada menyimpan kepahitan, dan berdoa daripada bergosip, kami sedang memilih kehidupan.
Yesus, Engkau memikul dosa kami agar kami merdeka. Tolong kami memikul salib harian kami itu bukan dengan menggertakkan gigi, melainkan dengan mempercayai hati-Mu.
Tanam kami di dekat aliran rahmat kerahiman-Mu. Buatlah kami setia dalam pengorbanan kecil agar ketaatan yang tersembunyi menghasilkan buah yang kekal.
Yesus, kami memilih kehidupan. Kami memilih Engkau.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

