Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Rahasia senja adalah ekspresi tulus alam lewat bahasa bisu tanpa kata dan suara.”
(Anonim)
Senja dan Bahasa Bisu
Ada sebuah tradisi tua dalam masyarakat kita, bahwa di saat ‘bersedih dan duka,’ mereka akan melepaskan rindu dan duka itu lewat cara menatap warna-warni senja di kaki langit. Yang di kejauhan sana, tampak lukisan alam membisu dalam tata warna nan indah memesona. Alam senja hadir tanpa kata dan suara.
Sesekali di depan mata mereka tampak sejumlah kecil camar pantai nan manja mengepakkan sayap mungilnya, mereka sedang girang sambil sesekali menukikkan paruhnya seolah mencumbui genit buih-buih gelora ombak nan girang.
Semua itu berlangsung hanya dalam sunyi. Terekspresi tanpa kata dan bahasa. Di sana hanya ada taburan coretan tertata, berupa tata warna alam senja semolek rindu para dukawan sendu itu.
Ingin Memandangi Bola Mata sang Bunda
Di ujung sebuah tanjung dan sunyi ada sebuah teluk mungil yang berpasir hitam, duduklah seorang yang sedang sendu menatap ke kaki langit berwarna. Ia menatap tanpa kata dan suara. Tapi di relung duka dan rindu sukmanya, justru ada pergulatan batin yang maha duka. Kala itu, ia sungguh sedang sangat bersedih.
Tak lama berselang, ia seolah mendesis sedih, “Ibu, tampakkan bola-bola matamu padaku, walau hanya sesaat.”
Sesaat kemudian, di kejauhan sana, di antara arak-arakan gumpalan gemawan berwarna tampak samar-samar seuntai tulisan “Nak, bola-bola mataku, kini sedang bersemi di dalam bola-bola mata sendumu. Aku sedang berada dalam rindu bersamamu. Tapi Nak, kembalilah bersama arak-arakan gumpalan gemawan senja ke gubug dukamu.”
Kala dia membuka kelopak-kolopak mata dukanya, tampak segumpal bayangan gelap, seseorang yang sedang membopongnya melewati bentangan pasir pantai itu.
Kini sadarlah ia, bahwa itulah bayangan sang Bunda yang datang menghampirinya sebagai pemuas rasa rindu dan duka di dadanya. Ibunya ternyata tidak sudi pergi dan meninggalkan dia dalam sunyi.
Bahasa Senja di Kaki Langit
Kaki-kaki langit, sudah diidentikan dengan suasana kebisuan. Ada, tapi tak bersuara. Ada, tapi dalam hening dan sepi. Ada, tapi seolah tak ada. Itulah keberadaan sejati dari suasana di kaki langit.
Ya, bahasa tanpa kata dan kesunyian, itulah bahasa khas si kaki langit. Ia menyimbolkan suasana nurani kita di kala bersedih dan duka. Maka, di kala relungan duka datang menggayut sukma sunyi ini, berkatuplah bola-bola matamu dan bersunyilah kau bersamanya.
Karena dalam sunyi dan sepi sejati itulah dia yang kau rindukan akan datang menyapa walaupun dalam sunyi kata.
Jadi, bahasa kaki langit adalah bahasa semesta yang kaya pesan dan makna bagi kehidupan kita manusia.
Refleksi
Mari bergurulah senantiasa kepada sunyi semesta. Karena di sanalah terdapat sebuah realitas tanpa bahasa.
Jangan takut untuk berada di dalam sepi, karena bukankah kita pun berasal dari sepi?
Bukankah Sang Dia pun bertakhta di dalam sunyi?
Kediri, 17 Oktober 2025

