Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
[Red-Joss.com] Manusia, si ajaib yang terpental di atas bumi maya ini, sesungguhnya sebagai makhluk sosial. Sekaligus juga personal yang unik.
Kapan, di mana pun, di dalam komunitas apa pun, sejatinya sang manusia ini rindu untuk bersama dengan sesama yang lain, sekali pun dia juga sesekali rindu untuk berada seorang diri.
Saya mempunyai beberapa pengalaman, dari hal pentingnya memandang dan menyapa ini.
Manusia, siapa pun dia, tentu senang, jika dipandang dan disapa. Karena saat itu, sang manusia itu merasa dan menyadari, bahwa eksistensinya diakui kehadirannya. Dia merasa sebagai bagian dan bahkan dihargai oleh orang lain.
Beberapa kali saya bepergian, dengan pesawat terbang, bis, dan menumpang kereta api di negeri besar dan sangat memesona ini.
Pernah saya merasakan dan mengalami di sebuah terminal bis sebagai seorang yang tidak dihiraukan oleh ratusan, bahkan ribuan orang.

Namun, pernah juga, saat di dalam kereta api saya mendapat seorang teman seperjalanan yang sangat asyik, ramah, banyak senyum, dan bahkan bergurau seolah seorang teman lama.
Saat itu, hati ini berbunga-bunga. Saya berkata, “Mengapa Mas sangat ramah pada saya?”
Hal itu terjadi Senin malam, 13 Agustus 2023. Saat saya berangkat dari Semarang ke Kediri.
Ternyata pria muda berusia 22 tahun itu, berinisial Al. Ia dari Jakarta hendak ke kota Solo untuk urusan usaha menyablon bersama beberapa temannya.
Kami mengobrol sangat akrab, bercanda, dan bergurau, bahkan sampai membicarakan hal-hal yang sangat personal.
Di saat sahabat mudaku itu hendak turun di Solo, hatiku mulai terasa kecut. Karena saya justru merasa ditinggalkan seorang sahabat muda yang baik dan segera berpisah. Saat itu, kami saling menukar nomor WA agar terus berkomunikasi.
Mengapa hal ini terjadi sangat cepat, spontan, dan segera akrab? Ternyata hal ini diawali oleh mata yang memandang serta bibir yang menyapa.
Sungguh betapa luas, dalam, serta indahnya hati tulus seorang anak manusia, jika hati kita juga senantiasa terbuka dan tulus pada sesama.
Mari kita pendekkan dan singkatkan jembatan panjang yang terbentang itu dengan seulas senyum dan keramah-tamahan untuk menjalin persahabatan yang tulus hati.
Keterbukaan pintu hati, kejujuran, ketulusan tanpa sekat dan tanpa membedakan itu justru meleburkan hati kita menjadi pribadi-pribadi paling istimewa di atas jagad ini.
Terima kasih Mas Al, sahabat mudaku yang baik, kamu sungguh seorang figur komunikator hebat. Ketahuilah, Bapak sungguh bangga dan menyayangimu. Kamu pun sudah menjadi anakku juga!
Pintu hati yang terkuak lebar senantiasa akan memancarkan seberkas cahaya indah lewat mata yang memandang serta bibir yang menyapa.
Semoga Gusti Allah mempertemukan kita lagi!
Kediri, 14 Agustus 2023

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.